
PURWAKARTA, RAKA – Sebuah tugu berbentuk peluru berdiri sebagai penanda sejarah kelam perjuangan kemerdekaan di wilayah Desa Cihanjawar, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta.
Monumen itu tidak sekadar bangunan simbolik, melainkan saksi bisu atas peristiwa pembantaian tujuh tokoh masyarakat oleh tentara Belanda pada masa penjajahan.
Tujuh nama yang terukir di tugu tersebut adalah Enos Sanosi, Jamhur, Jakaria, Oji, Adung, Oha, dan Arja. Mereka terkenal sebagai tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar di lingkungannya masing-masing.
Baca Juga: Situ Darwin Kini Sudah Punya Musala
Menurut penuturan Ki Dana, salah satu saksi sejarah yang masih hidup, peristiwa tragis itu bermula dari laporan intelijen Belanda yang menuding ketujuh tokoh tersebut terlibat aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan laporan tersebut, pasukan Belanda kemudian melakukan penangkapan secara paksa.
“Mereka diculik dan langsung dieksekusi di lokasi yang kini berdiri tugu peluru,” kata Ki Dana.
Namun, hasil penelusuran sejarah menunjukkan adanya kekeliruan fatal dalam operasi tersebut. Dari tujuh orang yang menjadi sasaran, enam di antaranya ternyata bukan tokoh yang sebenarnya.
“Enam orang yang masuk dalam daftar pencarian justru tidak berada di lokasi dan berhasil selamat. Sementara tujuh orang yang dibunuh adalah korban salah sasaran,” ujar Ki Dana.
Tonton Juga: P3K Asik Naik Mobil Damkar
Ia menambahkan, para pejuang yang sebenarnya telah wafat seiring berjalannya waktu. Meski demikian, peristiwa salah tangkap dan pembantaian tersebut meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat.
Sebagai bentuk penghormatan dan pengingat sejarah, masyarakat membangun Tugu Peluru untuk mengenang tujuh tokoh yang gugur. Monumen itu menjadi simbol perjuangan sekaligus pengingat akan kekejaman penjajahan yang pernah terjadi. (yat)



