Mahasiswa Undip Ciptakan Wastafel Portable

MUDAH DIPAKAI: Muhammad Ario Ilham Firmandito jelaskan sistem kerja wastafel portable ciptaannya di hadapan Kepala Desa Purwadana dan aparat desa lainnya. Wastafel ini bisa digunakan masyarakat dengan mudah dan tanpa listrik.
TELUKJAMBE TIMUR, RAKA – Sudah tugas seorang mahasiswa untuk mengabdi kepada masyarakat ketika menempuh pendidikan tinggi. Begitupun dengan Muhammad Ario Ilham Firmandito (22), mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di desa tempat tinggalnya, Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.
“Karena wabah Covid-19 jadi KKN di tempat tinggal masing-masing dari 5 Juli sampai 15 Agustus,” terang mahasiswa jurusan teknik mesin ini, Rabu (22/7).
Pagi itu, selepas rapat minggon di aula kantor Desa Purwadana, Ario menyerahkan dua wastafel portabel hasil karyanya kepada pemerintah Desa Purwadana. Ia mengaku butuh waktu dua minggu untuk mengonsep wastafel portabel tersebut agar beda dengan yang lain. “Karena saya berpikir KKN itu tempat saya berinovasi, baik bagi diri saya sendiri maupun bagi warga Desa Purwadana, ini kesempatan saya untuk eksplore diri saya sendiri,” ujarnya.
Wastafel portable karya Ario memanfaatkan sistem kerja pompa yang biasa digunakan oleh penjual minyak. Pompa tersebut disambungkan dengan besi dan pegas yang juga sudah terhubung dengan sebuah pedal. Dengan menggenjot pedal tersebut nantinya air dalam penampungan akan terpompa dan tersalurkan melalui sebuah pipa hingga akhirnya air keluar melalui keran yang terpasang di wastafel. “Saya cari per yang pas dengan batangnya dan kekuatan kaki yang menekan jadi tidak terlalu berat, saya kombinasikan sistem batang dan per, saya terinspirasi dari shock breaker motor,” terangnya.
Ada empat keunggulan wastafel yang dibuat Ario, pertama ialah bahan pembuatannya yang 80% menggunakan bahan sisa misalnya batang besi bekas yang menjadi rangkat alat tersebut. Keunggulan kedua adalah wastafel tersebut tidak memerlukan listrik dalam pengoperasiannya sebab menerapkan sistem kerja mekanik. Keunggulan ketiga adalah wastafel portable tersebut higenis dan ramah lingkungan. Hal ini karena wadah penampungan air bersih yang tertutup sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar namun dapat diisi ulang dengan mudah karena sudah dipasang pipa pengisian air yang dapat dibuka-tutup.
Tak hanya itu, wastafel ini juga ramah lingkungan sebab air sisa tidak langsung dibuang melainkan ditampung terlebih dahulu pada wadah lainnya. “Yang keempat alat ini portabel, dalam artian bisa dipindahkan dengan mudah karena memiliki roda seperti troli, dan bisa ditempatkan dimanapun sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Ario berharap wastafel protabel buatannya dapat dimanfaatkan masyarakat Purwadana secara maksimal, terlebih saat ini tengah masa pandemi. Wastafel buatannya mendukung gerakan cuci tangan guna mencegah penularan virus corona. Ia juga berharap karya inovatifnya ini menginspirasi masyarakat terutama para pemuda untuk lebih berinovasi. “Minimal menginovasi alat saya, karena saya tahu kalau menciptakan dari nol itu lebih sulit dari pada mengembangkan,” harapnya.
Selain wastafel portabel, Ario juga membuat alat cetak batako yang memanfaatkan cangkang gabah padi atau serbuk kayu sisa. Hasil eksperimennya dua bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan batako yang dihasilkan cukup kuat bahkan untuk mendirikan bangunan sekalipun. “Dengan dicampur bahan gipsum dan semen, itu dia kuat, tahan getaran, dan kedap suara juga lebih ringan,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Desa Purwadana E Heryana mengapresiasi karya Ario. Wastafel yang dibuat Ario menurutnya sangat bermanfaat bahkan akan menjadi tren di desa tersebut. Ia pun merasa bahagia dengan adanya wastafel portabel tersebut yang menurutnya unik karena tidak terpaku dengan sifat air yang mengalir ke tempat rendah. “Antiknya disitu, karena secara akdemis ini kan hasil penelitian, ini yang membuat saya senang,” pungkasnya. (din)