Warga Cilamaya Belum Tenang

BEROBAT: Warga Cilamaya Wetan antre memeriksa kesehatan setelah banjir merendam rumah mereka. Pemeriksaan kesehatan ini penting, karena setelah banjir rawan menimbulkan penyakit.
Tanggul Sungai Cilamaya Rawan Jebol
CILAMAYA WETAN, RAKA – Setelah banjir merendam Kecamatan Cilamaya Wetan beberapa hari terakhir, para kepala desa di Kecamatan Cilamaya Wetan meminta penanganan serius. Terutama penanganan tanggul kedua sungai, diantaranya Sungai Cilamaya dan Sungai Kali Bawah yang mulai terkikis di beberapa titik.
Selain tingginya debit air, penyebab banjir yang melanda 10 desa di Kecamatan Cilamaya Wetan, akibat luapan kedua sungai yang tanggulnya tak kuat menahan debit air. Di katakan Kades Muara Iyos Rossi, kikisan tanggul sebenarnya sudah diantisipasi melalui kerja bakti antara pemerintah desa dan warga. Namun, saat tingginya air, tanggul yang dibuat secara manual tersebut tidak mampu bertahan lama. “Tanggul yang dibuat manual lewat kerja bakti sudah rembes setiap kali tersapu banjir. Jika terus diulang, hal ini akan memicu jebolnya tanggul susulan dan sulit terbendung,” ujarnya.
Menurutnya, untuk mencegah banjir susulan, tanggul yang mulai terkikis ini harus mendapatkan penanganan serius. Pemeliharaannya perlu diperhatikan secara ketat agar warga merasa aman dan tak terulang lagi kejadian yang sama. Kalau tidak, masyarakat akan terus di hantu rasa khawatir akan datangnya banjir.
Hal senada di katakan Kades Sukakerta H Bukhori. Menurutnya, akan lebih baik jika dalam waktu satu tahun, saluran air ini dinormalisasi dua kali. Mengingat, pendangkalan muara itu dinilai sangat cepat sedimentasinya. Sebagai alternatif, lanjut H Bukhori, bisa saja dana desa di realisasikan untuk normalisasi, khususnya bagi desa yang memiliki saluran pembuang. Karena jika lambat tertangani, kekhawatiran masyarakat akan bencana banjir bukan hal yang mustahil kembali terjadi. “Kalau perlu normalisasi melalui anggaran desa, mari kita siapkan, jangan sampai masyarakat terus merasakan banjir akibat penanganan yang lambat,” pungkasnya. (rok)