
KARAWANG, RAKA – Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang dalam membantu pemasaran produk kriya dinilai masih kurang. Saat ini, penjualan masih didominasi secara langsung oleh penjual.
Fazriyan Wardani Adhitya, kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparbud mengatakan penilaian terakhir dilakukan melalui cara memaparkan tentang kondisi ekonomi kreatif di hadapan dewan juri. Proses ini berlangsung di Jakarta. Setelah itu akan diberikan hasil pada tanggal 19 Agustus melalui surat pemberitahuan dan acara Weekly Brief with Sandi Uno (WBSU). “Sudah berjalan 2 minggu. Hari ini sedang penjurian di Jakarta selama 1 hari. Pemaparan akan dilakukan oleh Sekda Karawang ke dewan juri. Pemaparan itu menggambarkan kondisi ekosistem Ekraf di Karawang. Hasil penilaian akan diumumkan kepada 11 Kabupaten/Kota pada hari Senin, 19 Agustus 2024 melalui surat pemberitahuan dan acara Weekly Brief with Sandi Uno (WBSU),” ujarnya, Selasa (13/8).
Ia menjelaskan, poin penilaian berupa gambaran umum ekosistem Ekonomi Kreatif (Ekraf), posisi Ekraf dalam pembangunan daerah, proses persiapan menuju kabupaten atau kota kreatif, sumber daya berjejaring dalam Kata Kreatif Indonesia, kontribusi dalam pengembangan Ekraf nasional, tata kelola, manfaat ekonomi, keragaman sosial budaya, kelestarian lingkungan. Masing-masing kategori diberikan poin sebesar 10 dan 15 persen.
Sementara itu dari Ketua Sub Sektor Kriya sekaligus pemilik produk Karasi 19, Supriadi mengungkapkan untuk sub sektor kriya di Karawang hingga saat ini masih membutuhkan sentuhan yang maksimal dari pemerintah daerah. Ia mengaku dukungan pemerintah dalam pemasaran produk kriya saat ini masih dinilai kurang. Hal ini terbukti dengan adanya penggunaan produk lain ketika terdapat acara di Karawang. Ia menginginkan agar pemerintah dapat menggunakan produk lokal dari pelaku Ekraf. Sistem pemasaran masih menggunakan sistem direct selling. “Untuk persiapan kabupaten kreatif kita sudah dikunjungi oleh Kemenparekraf. Kalau untuk produk Karasi sudah terjual 20.000 pcs dengan sistem direct selling. Kalau untuk kendala yang kami alami pertama untuk penggunaan produk lokal masih rendah dan lemah, kedua untuk pemberian modal pun belum pernah ada dan pemasaran dari pemerintah juga belum pernah ada sampai sekarang. Harapan kami ke depan saat ada kegiatan di Karawang bisa menggunakan produk lokal,” ungkapnya.
Sejauh ini omset yang dihasilkan oleh sub sektor kriya hanya sebesar 3 hingga 8 juta. Kemudian kendala lain yang dialami terletak di tempat yang disediakan masih minim. Ia melanjutkan untuk proses pemasaran menggunakan online masih dilakukan oleh sebagian kecil anggota di sub sektor kriya. “Kalau omset yang diperoleh teman-teman kriya saat kegiatan hanya 3 sampai 8 juta, itu juga diperoleh saat berjualan bersama. Berbeda-beda orangnya yang ikut, setiap ada kegiatan saya bagikan ke group dan mereka sendiri yang mengajukan diri untuk mengikuti kegiatan. Saya khawatir saat banyak yang mau tetapi tempat yang disediakan hanya sedikit. Kalau menurut saya berpengaruh juga untuk proses penilaian, harapan kami ke depannya bisa berkolaborasi semua pihak untuk membangun Karawang. Saya pun sudah menyampaikan kepada tim penguji untuk semua kendala yang kami alami. Kendala utama yang ada di kriya ada di pemasaran. Kalau banyak produk yang tersedia tapi pemasaran tidak berjalan lancar juga tidak akan ada perubahan. Di kriya sudah ada yang menggunakan pemasaran melalui online, tapi masih belum banyak karena sebagian besar pelaku di kriya usia di atas 40 tahun,” tutupnya. (nad)