
KARAWANG,RAKA- Tim Dosen Fakultas Teknik Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) mendorong pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber energi hijau melalui pengolahan sekam padi menjadi briket arang bernilai ekonomi.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Desa Belendung, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, salah satu wilayah yang memiliki potensi pertanian padi cukup besar. Program tersebut mencakup sosialisasi pemanfaatan limbah pertanian, workshop dan pelatihan pembuatan briket, demonstrasi mesin pres dan kompor briket, serta sosialisasi pemasaran dan potensi pasar.
Dalam pelatihan, masyarakat diperkenalkan pada proses pembuatan briket mulai dari pengolahan sekam menjadi arang, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan, hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar alternatif. Pemanfaatan sekam menjadi briket diharapkan dapat mengurangi limbah pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Tim Unsika juga melakukan serah terima mesin pres briket dan kompor briket, sekaligus memberikan sosialisasi mengenai pengoperasian dan pemanfaatan alat tersebut di Kantor Desa Belendung pada Rabu (12/08). Kegiatan tersebut dihadiri oleh warga, jajaran perangkat desa, serta kelompok tani Desa Belendung.
Selain aspek produksi, masyarakat juga diberikan wawasan mengenai strategi pemasaran dan potensi pasar briket. Produk briket biomassa tidak hanya berpeluang memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif di pasar domestik, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menuju pasar ekspor, antara lain Cina, Jepang, negara-negara Arab, dan Turki.
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini mendapat dukungan dan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun 2026. Ketua Tim Pengabdian, Dr. Eri Widianto, mengatakan bahwa pengolahan sekam padi menjadi briket merupakan langkah awal untuk mendorong inovasi berbasis potensi lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah pertanian.
“Limbah bukan akhir, tetapi awal inovasi desa. Kita bisa mulai dari briket, kemudian mengembangkan produk lain yang memiliki nilai ekonomi, membangun usaha bersama, serta terus merawat kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan pemerintah,” ujar Eri.
Menurutnya, pengembangan briket sekam padi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan energi hijau dan ekonomi sirkular kepada masyarakat, di mana limbah pertanian tidak lagi hanya dipandang sebagai residu, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Sekretaris Desa Belendung, Abdul Rohman, menyambut baik kegiatan yang dilakukan Tim Dosen Fakultas Teknik UNSIKA karena dinilai sesuai dengan potensi pertanian yang dimiliki desa.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena sekam padi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai. Kami berharap program ini dapat terus dilanjutkan hingga masyarakat mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi warga,” ujar Abdul Rohman.
Melalui kolaborasi Unsika dan Desa Belendung, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong pemanfaatan limbah pertanian, pengembangan energi hijau, penerapan teknologi tepat guna, serta tumbuhnya usaha masyarakat berbasis potensi lokal. (rls)



