Perjuangan Andri Hidayat Saputera Melawan Galukoma Sejak Kecil, Kini Hidup Mandiri

PURWAKARTA, RAKA – Andri Hidayat Saputera (37), warga Desa Lebakanyar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, penyandang disabilitas tunanetra harus berjuang hidup mandiri. Ia mengalami penyakit glaukoma sejak dini.
Andri awalnya terlahir normal seperti anak-anak pada umumnya. Namun seiring bertambahnya usia, penyakit glaukoma perlahan menggerogoti fungsi penglihatannya. Berbagai upaya pengobatan sempat ia jalani, meski hasilnya belum mampu mengembalikan kondisi penglihatannya.
Kini, Andri harus menerima kenyataan pahit. Mata kirinya sudah tidak dapat melihat sama sekali, sementara mata kanannya mengalami gangguan berat sehingga tidak mampu melihat dengan jelas.
Baca Juga: Gagal Kabur, Dua Pencuri Motor di Palumbonsari Tak Berdaya
Andri menjalankan aktivitasnya sendiri di dalam rumah. Meski demikian, ia menolak menyerah pada keadaan.
Ia memilih bertahan dan terus berjuang, meskipun harus hidup seorang diri dan belum berumah tangga. Untuk kebutuhan sehari-hari, Andri masih bergantung pada bantuan keluarga yang berada di luar daerah Purwakarta.
Ketergantungan itu justru menjadi beban batin bagi dirinya. Ia mengaku tidak nyaman jika harus terus mengandalkan bantuan orang lain.
“Saya tidak ingin jadi beban keluarga. Saya ingin punya keahlian supaya bisa menghidupi diri sendiri,” ujar Andri, Selasa (10/2).
Tonton Juga: Jalan Parakan Langganan Banjir
Menurut Andri, keterbatasan penglihatan memaksanya beradaptasi dalam banyak hal. Namun di balik itu, ia menjadikan kondisi tersebut sebagai pemicu semangat untuk tetap bertahan dan bangkit.
Ia mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan pelatihan keterampilan yang sesuai bagi penyandang tunanetra. Selama ini, keterbatasan informasi menjadi kendala utama baginya untuk berkembang.
“Saya sebenarnya ingin ikut pelatihan, tapi tidak tahu harus ke mana dan dari mana informasinya. Padahal banyak teman-teman disabilitas yang mau belajar dan bekerja,” tuturnya.
Andri menilai, pelatihan keterampilan seperti pijat, kewirausahaan, kerajinan tangan, hingga pemanfaatan teknologi ramah disabilitas sangat dibutuhkan oleh penyandang tunanetra.
Dengan pendampingan yang tepat, ia meyakini kaum disabilitas memiliki potensi besar untuk hidup mandiri dan bermartabat.
Kisah Andri menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya.
Dukungan pelatihan, akses informasi, dan perhatian dari berbagai pihak dinilai sangat penting untuk membuka jalan kemandirian bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Purwakarta. (yat)



