DLH Purwakarta Pastikan TPA Cikolotok Bebas Risiko Longsor, Ini Strategi Pengelolaannya

PURWAKARTA, RAKA – Tragedi longsornya gunungan sampah di TPA Bantargebang, Bekasi yang menewaskan beberapa orang menjadi peringatan keras bagi pengelolaan tempat pembuangan akhir di berbagai daerah.
Menyikapi peristiwa tersebut, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta memastikan kondisi tumpukan sampah di TPA Cikolotok masih dalam batas aman dan terkendali.
Kepala DLH Purwakarta, Erlan Diansyah menegaskan bahwa pihaknya sengaja menjaga tinggi gunungan sampah agar tidak menjulang seperti yang terjadi di Bantargebang.
“Gunungan sampah di Cikolotok kita jaga tetap rendah. Tingginya hanya sekitar 2 sampai 4 meter dari permukaan jalan, tidak sampai puluhan meter,” ujar Erlan, Selasa (10/3).
Menurutnya, ketika ketinggian sampah mulai mencapai batas atas, petugas langsung melakukan perataan menggunakan alat berat. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko longsor sekaligus menjaga stabilitas tumpukan sampah.
Ia menjelaskan, tumpukan sampah yang sudah mencapai sekitar 4 meter biasanya langsung “dikupas” kembali menggunakan bulldozer agar kembali rata.
“Kalau sudah 4 meter biasanya kita ratakan lagi sampai sekitar 2 meter. Di ketinggian itu masih masuk zona aman,” katanya.
Selain mengendalikan tinggi tumpukan, pengelolaan area pembuangan juga menjadi perhatian DLH. Erlan menyebut, total luas lahan TPA Cikolotok mencapai sekitar 10 hektare, namun yang saat ini dimanfaatkan untuk pembuangan baru sekitar 4 hektare.
Pemerintah daerah pun telah menyiapkan langkah antisipatif dengan membuka lahan tambahan sekitar 2 hektare yang akan dikembangkan menjadi TPA sanitasi pada tahun 2026.
“Nanti lahan seluas dua hektare itu akan kita bangun menjadi TPA sanitasi,” kata Erlan.
Di sisi lain, aktivitas pengelolaan sampah di TPA Cikolotok juga menjadi sumber penghidupan bagi puluhan pemulung.
Berdasarkan data DLH, sekitar 90 orang pemulung masih beraktivitas di kawasan tersebut untuk memilah sampah yang bisa didaur ulang. Sementara itu, volume sampah yang masuk ke TPA Cikolotok setiap harinya mencapai sekitar 160 ton.
Meski jumlah tersebut cukup besar, DLH Purwakarta memastikan kondisi tempat pembuangan akhir tersebut belum mengalami kelebihan kapasitas.
Erlan menjelaskan bahwa beberapa area yang telah penuh bahkan sudah ditutup dan diratakan kembali sebagai bagian dari manajemen pengelolaan lahan.
“Sebagian area yang sudah penuh kita tutup dan diratakan. Karena itu kita juga menyiapkan area baru untuk pembuangan sementara,” ujarnya.
Ia menegaskan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan agar peristiwa tragis seperti yang terjadi di Bantargebang tidak terulang.
DLH Purwakarta, lanjut Erlan, berupaya menjaga pengelolaan sampah tetap terkendali sekaligus memastikan keselamatan para pekerja dan pemulung yang beraktivitas di TPA Cikolotok. (yat)



