
BEKASI TIMUR,RAKA– Malam yang biasanya riuh oleh penumpang pulang kerja berubah menjadi kepanikan di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam. Suara benturan keras memecah suasana ketika Kereta Api jarak jauh Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang rangkaian KRL Commuter Line yang sedang berhenti di jalur stasiun.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.53 WIB itu membuat penumpang berlarian, sebagian berteriak histeris, sementara yang lain berusaha menolong korban dari gerbong yang ringsek. Tabrakan terjadi pada jam sibuk malam hari saat area stasiun masih dipadati pengguna transportasi publik.
Wijaya, (40)salah satu calon penumpang yang saat itu sedang mengantre masuk ke dalam gerbong KRL, mengaku sempat melihat situasi janggal beberapa detik sebelum tabrakan terjadi.
“Saat itu kereta sedang menurunkan penumpang, saya mau naik. Ternyata kita lihat di sana kereta itu berada di jalur yang sama,” katanya.
Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya datang dari arah belakang dengan kecepatan tinggi dan menabrak gerbong paling belakang KRL, yang merupakan gerbong khusus perempuan. Benturan keras membuat bagian depan lokomotif masuk ke badan kereta komuter.
“Jadi kepala lokomotifnya itu sampai masuk ke dalam gerbong kurang lebih seperempat bagian,” ujar Wijaya.
Pemandangan setelah tabrakan disebut sangat memilukan. Penumpang yang selamat berusaha mengevakuasi korban dengan alat seadanya. Sebagian kursi di dalam gerbong terdorong dan bertumpuk akibat hantaman.
“Dan kondisi penumpang itu sangat memprihatinkan, mereka tertumpuk-tumpuk, kursi terdorong ke atas,” tambahnya.
Suara benturan juga terdengar hingga ke luar area stasiun. Muhammad Akbar, pengemudi ojek online yang berada tak jauh dari lokasi, mengira semula ada kecelakaan kendaraan di jalan raya.
“Keras banget, saya pikir itu mobil yang tertabrak. Kita lihat tahu-tahu begini. Api tidak ada tapi ngebul, asap banyak,” katanya.
Asap tebal terlihat keluar dari rangkaian kereta yang bertabrakan. Meski tidak muncul kobaran api, suasana mencekam menyelimuti peron dan jalur sekitar stasiun. Penumpang panik berebut keluar, sementara petugas berupaya membuka akses evakuasi.
Salah seorang penumpang selamat, Andi (42), menuturkan bahwa KRL yang ditumpanginya memang sedang berhenti cukup lama sebelum tabrakan terjadi. Menurut dia, penghentian kereta dipicu gangguan di perlintasan sebidang dekat kawasan Bulak Kapal.
“Kejadiannya begitu cepat, kereta jarak jauh menabrak kami di KRL,” katanya.
Ia menyebut gerbong paling belakang menerima dampak terparah karena menjadi titik benturan langsung.“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujarnya.
Sebelum tabrakan terjadi ada kecelakaan lain di perlintasan Ampera, Bulak Kapal. Sebuah mobil taksi diduga tertabrak kereta di jalur perlintasan sebidang sehingga perjalanan KRL terganggu dan rangkaian harus berhenti.
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo membenarkan adanya insiden awal tersebut. Menurut dia, berhentinya KRL menjadi faktor yang memicu kecelakaan beruntun.
“Jadi KRL itu berhenti karena ada taksi yang tertabrak di perlintasan dekat Bulak Kapal,” ujar Franoto.
Akibat KRL berhenti mendadak di jalur, KA Argo Bromo Anggrek yang berada di belakang tidak dapat menghindar.“KRL berhenti, lalu di belakangnya ada KA Argo Bromo Anggrek yang kemudian terjadi tabrakan,” tambahnya.
Petugas keamanan stasiun, tim pemadam kebakaran, tenaga medis, TNI, Polri, serta warga sekitar langsung bergerak mengevakuasi korban. Penumpang yang terluka dibawa ke lantai dua stasiun sebelum dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Hingga Senin malam, KAI mengonfirmasi terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut. Dua orang dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan medis.“Tercatat di rumah sakit ada dua korban meninggal dunia,” kata Franoto.
Untuk jumlah korban luka, pihak KAI menyebut pendataan masih terus dilakukan seiring proses evakuasi. Sejumlah korban mengalami luka akibat benturan dan terjepit di dalam gerbong.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turun langsung ke lokasi kejadian didampingi Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dan jajaran otoritas terkait.
AHY mengungkapkan, berdasarkan data terbaru per pukul 13.00 WIB kemarin, terdapat penambahan jumlah korban dari sebelumnya 14 orang menjadi 15 korban yang dinyatakan meninggal dunia. Sementara sebanyak 88 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Update sampai dengan jam 1 siang tadi ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih dirawat. Termasuk ada tiga yang tadinya terjepit bisa kita evakuasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit,” ujarnya di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4).
Sebelumnya, Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyampaikan bahwa KAI menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
“Saat ini, PT KAI bersama pihak kepolisian tengah melakukan proses evakuasi terhadap rangkaian kereta serta penanganan korban di lokasi kejadian. Kami berupaya semaksimal mungkin agar operasional perjalanan kereta api dapat segera kembali normal,”katanya, Senin malam (27/4).
KAI memastikan petugas di lapangan telah bergerak cepat untuk melakukan penanganan dan pengamanan lokasi, serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna mempercepat proses evakuasi dan pemulihan perjalanan. Sebagai langkah pengamanan, aliran listrik aliran atas (LAA) pada lintas Cibitung–Bekasi Timur dan emplasemen Bekasi Timur untuk sementara dinonaktifkan.
Adapun penyebab kejadian serta jumlah perjalanan KA yang terdampak masih dalam proses investigasi dan pendataan lebih lanjut. Informasi akan terus diperbarui secara berkala.
”KAI juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mematuhi aturan keselamatan, khususnya di area jalur rel dan perlintasan sebidang, demi mencegah kejadian serupa,”tutupnya. (mif/zal)



