
KARAWANG, RAKA- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Karawang terus memperkuat layanan literasi melalui inovasi digital guna memperluas akses bacaan bagi masyarakat.
Melalui aplikasi Si Kancil dan layanan Spot Baca, masyarakat kini dapat mengakses berbagai bahan bacaan secara lebih mudah dan fleksibel, termasuk di luar jam operasional perpustakaan.
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap layanan perpustakaan menjadi salah satu alasan Disperpusip menghadirkan inovasi tersebut. Selain meningkatnya jumlah kunjungan, permintaan masyarakat terhadap layanan baca yang lebih luas juga terus bertambah.
Pustakawan Disperpusip Karawang Gita mengatakan, masyarakat bahkan menginginkan layanan perpustakaan tersedia sepanjang waktu sehingga mendorong hadirnya inovasi berbasis digital.
“Bahkan ada masyarakat yang meminta perpustakaan buka 24 jam. Karena itu kami inisiasi layanan digital seperti Si Kancil dan Spot Baca agar masyarakat tetap bisa mengakses bacaan meski perpustakaan tutup,”katanya, Jumat (22/5).
Diteruskannya, Aplikasi Si Kancil atau Sahabat Inovasi Karawang Cinta Literasi menyediakan berbagai koleksi buku elektronik yang dapat diakses kapan saja. Sementara layanan Spot Baca Online menggunakan sistem barcode yang ditempatkan di sejumlah titik strategis agar masyarakat lebih mudah mendapatkan bahan bacaan.
”Rencananya, layanan Spot Baca akan hadir di Desa Barugbug Kecamatan Jatisari, Warungbambu Kecamatan Karawang Timur, Gombongsari Kecamatan Rawamerta, Sukaharja Kecamatan Telukjambe Timur, serta Perpustakaan Daerah Karawang,”terangnya.
Kepala Disperpusip Karawang Wahidin mengatakan, transformasi layanan perpustakaan menjadi langkah yang perlu dilakukan seiring perubahan pola masyarakat dalam mengakses informasi di era digital.
“Sekarang tantangannya bukan hanya menyediakan buku, tapi bagaimana mendorong masyarakat punya kebiasaan membaca. Karena yang terjadi, banyak orang lebih sering mengakses konten pendek di gadget, bukan membaca secara mendalam,”paparnya.
Menurutnya, karakteristik masyarakat Karawang yang didominasi pekerja industri juga menjadi pertimbangan dalam menyesuaikan pendekatan layanan literasi.
“Karakteristik Karawang ini kan banyak pekerja pabrik, ritmenya cepat. Jadi pendekatan literasi tradisional kadang tidak lagi relevan. Makanya kita dorong pemanfaatan teknologi agar akses bacaan lebih mudah,” jelasnya.
Selain pengembangan layanan digital, sambungnya, Disperpusip juga terus memperluas jangkauan fasilitas literasi melalui perpustakaan di sejumlah OPD, fasilitas pelayanan publik, serta mengaktifkan kembali taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa.
“Perpustakaan sekarang bukan lagi sekadar tempat pinjam buku, tapi harus menjadi pusat kegiatan dan solusi bagi masyarakat. Itu yang sedang kita dorong,”tutupnya. (zal)



