Inovasi Jaksa Masuk Sekolah: Kejari Purwakarta Ajak Pelajar Belajar Hukum dengan Cara Kreatif
PURWAKARTA, RAKA – Edukasi hukum tidak lagi identik dengan ceramah di dalam kelas. Melalui Jaksa Masuk Sekolah Festival 2026 yang diadakan di Bale Sawala Yudistira, Kompleks Pemkab Purwakarta pada Kamis (18/6), Kejaksaan Negeri Purwakarta mengubah pendekatan tersebut menjadi ruang kreativitas bagi para pelajar lewat drama kolosal, lomba poster, hingga pameran karya seni.
Kegiatan yang digelar dalam rangka peringatan Hari Jadi Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-88 itu diikuti puluhan sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat. Festival ini menjadi yang pertama kali digelar oleh Kejaksaan Negeri Purwakarta sebagai pengembangan dari program rutin Jaksa Masuk Sekolah.
Kepala Kejaksaan Negeri Purwakarta, Apsari Dewi, mengatakan festival tersebut dirancang untuk memperkenalkan kesadaran hukum kepada pelajar melalui cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.
“Ini Jaksa Masuk Sekolah Festival tahun 2026, jadi pertama kali diadakan di Purwakarta. Ini merupakan inovasi dari Kejaksaan Negeri Purwakarta,” kata Apsari, Kamis (18/6).
Menurutnya, festival tersebut diikuti 53 peserta lomba poster dan 18 sekolah yang berpartisipasi dalam lomba drama kolosal dari jenjang SMP hingga SMA.
Ia menjelaskan, tujuan utama kegiatan tersebut bukan sekadar menggelar perlombaan, melainkan membangun karakter pelajar yang berintegritas dan sadar hukum sejak dini.
“Tujuannya untuk memperkenalkan hukum sedini mungkin sehingga terbentuk karakter anak didik Purwakarta yang berintegritas, sadar hukum, dan nantinya bisa berkontribusi untuk Purwakarta,” ujarnya.
Berbeda dari pelaksanaan Jaksa Masuk Sekolah pada tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan dengan mendatangi sekolah, kali ini Kejaksaan Negeri Purwakarta justru mengundang para pelajar dalam satu festival besar.
Menurut Apsari, pendekatan tersebut dipilih agar siswa dapat mengekspresikan pemahaman mereka mengenai hukum melalui karya kreatif, sekaligus mengenalkan budaya Indonesia melalui pertunjukan drama kolosal.
“Kami membuat sedikit out of the box. Jadi bukan kami yang datang ke sekolah, tetapi mengundang siswa SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Purwakarta untuk memperlihatkan kreativitas dan bakatnya melalui poster tentang sadar hukum dan drama kolosal,” katanya.
Selain menjadi ajang kompetisi, festival itu juga menjadi sarana pembentukan agen sadar hukum di kalangan pelajar. Kejaksaan berharap para siswa yang terlibat nantinya dapat menyebarkan pemahaman hukum kepada teman-teman sebayanya.
Apsari menilai pendekatan dari sesama pelajar akan lebih mudah diterima dibandingkan penyampaian materi yang hanya berasal dari aparat penegak hukum.
“Kalau dari temannya sendiri, dengan cara anak-anak dan pendekatan yang berbeda, mudah-mudahan materi sadar hukum ini akan lebih masuk kepada siswa,” ucapnya.
Salah seorang peserta, Alpian Dwi Priangga (17), siswa MA YPPA Cipulus, mengaku festival tersebut memberikan pengalaman berbeda dalam memahami hukum.
Sekolahnya mengangkat tema restorative justice dalam drama kolosal yang diperankan sekitar 25 siswa.
Meski hanya memiliki waktu persiapan selama tiga hari, Alpian mengatakan seluruh peserta tetap berusaha menampilkan pertunjukan terbaik.
“Persiapan lumayan menegangkan. Sebenarnya cuma tiga hari kami persiapan drama karena memang mendadak. Yang ikut drama sekitar 25 orang,” katanya.
Menurut Alpian, drama yang mereka tampilkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menyampaikan kritik sosial sekaligus mengajak masyarakat lebih memahami pentingnya kesadaran hukum.
“Acara ini supaya kita bisa menyampaikan kritik-kritik sosial kepada pemerintah maupun masyarakat. Alhamdulillah dengan agenda ini kami mendapat pengetahuan hukum,” ujarnya.
Selain perlombaan drama dan poster, festival juga menghadirkan pameran seni, stan makanan, serta penyuluhan hukum yang dapat diikuti para peserta selama kegiatan berlangsung.
Sementara itu, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menilai festival tersebut berhasil mengubah kesan bahwa pembelajaran hukum selalu berlangsung secara kaku dan menegangkan.
Menurutnya, melalui pendekatan kreatif, para pelajar dapat memahami bahwa hukum bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan bagian dari karakter dan budaya masyarakat.
“Kalau dengar judulnya Jaksa Masuk Sekolah mungkin terdengar seram, tetapi ternyata isinya menyenangkan. Di festival ini kita menyadari bahwa hukum bukan hanya pasal-pasal, tetapi juga kesadaran, karakter, budaya, dan filsafat,” kata Saepul.
Ia berharap penanaman kesadaran hukum sejak usia sekolah dapat membentuk generasi muda yang taat hukum dan memiliki integritas ketika memasuki kehidupan bermasyarakat di masa mendatang. (yat)



