Horor Simpang Unisma Bekasi: Jejak Tragedi Rem Blong yang Menelan Korban Jiwa dalam Kurun 30 Hari

radarkarawang.id, Kawasan Simpang Unisma di Jalan Cut Mutia, Bekasi Timur, kini tengah berada dalam sorotan tajam publik menyusul rentetan insiden kecelakaan kendaraan berat yang mengkhawatirkan.
Dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh hari, lokasi yang padat aktivitas ini telah menjadi saksi bisu dua kecelakaan besar melibatkan truk. Kejadian terbaru yang pecah pada Senin pagi (29/6) seolah mempertegas status kawasan tersebut sebagai ‘jalur maut’ baru yang menghantui para pengguna jalan di Kota Patriot.
Tragedi paling anyar ini melibatkan sebuah truk wing box yang diduga kuat mengalami kegagalan sistem pengereman atau rem blong saat mendekati persimpangan. Tanpa sempat mengurangi kecepatan, kendaraan raksasa tersebut menghantam tujuh unit sepeda motor dan satu mobil yang sedang berhenti tertib menunggu lampu merah.
Benturan keras tersebut mengakibatkan seorang pengemudi ojek online meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara sembilan orang lainnya menderita luka-luka dan harus segera dievakuasi ke berbagai rumah sakit terdekat.
Jika menilik catatan ke belakang, insiden serupa juga terjadi pada awal Juni 2026, di mana sebuah truk kontainer hijau hilang kendali hingga menabrak pembatas jalan di titik yang hampir identik. Meskipun kejadian pertama tidak memakan korban jiwa, frekuensi kecelakaan yang melibatkan armada logistik besar dalam waktu singkat ini memicu desakan publik agar pihak berwenang segera melakukan audit keselamatan menyeluruh terhadap kelaikan armada serta infrastruktur jalan di sekitar area Kampus Unisma.
Saat ini, pihak kepolisian dari Unit Gakkum Satlantas Polres Metro Bekasi Kota telah mengamankan sopir truk untuk pemeriksaan intensif guna memastikan penyebab pasti kecelakaan fatal tersebut. Sembari menunggu langkah mitigasi konkret dari pemerintah daerah, para pengendara diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan ekstra dan menjaga jarak aman, terutama saat melintasi persimpangan yang memiliki mobilitas kendaraan berat tinggi guna menghindari risiko bahaya yang tak terduga. (rk)



