
radarkarawang.id, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menegaskan kesiapan seluruh jajaran armada lokomotifnya untuk mengadopsi penggunaan bahan bakar biodiesel dengan kadar campuran minyak sawit sebesar 50 persen atau B50. Langkah strategis ini diambil guna menyukseskan program ketahanan energi nasional yang dicanangkan pemerintah, sekaligus mempercepat transisi menuju penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di sektor transportasi rel.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa kesiapan tersebut mencakup aspek teknis pada mesin lokomotif serta sistem distribusi bahan bakar di internal perusahaan. Pihaknya optimistis peralihan dari komposisi saat ini, yakni B35, menuju B50 tidak akan mengganggu kinerja operasional kereta api, baik untuk angkutan penumpang maupun logistik.
“KAI pada prinsipnya siap mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait implementasi B50. Seluruh armada lokomotif kami secara teknis telah siap menggunakan bahan bakar tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Anne Purba dalam keterangan resminya.
Kesiapan ini didasari pada serangkaian pengujian yang telah dilakukan sebelumnya. KAI telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk produsen mesin dan otoritas energi, untuk memastikan bahwa peningkatan kadar biodiesel tidak memberikan dampak negatif jangka panjang terhadap komponen mesin (engine durability). Hal ini penting untuk menjaga standar keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api yang menjadi prioritas utama perusahaan.
Selain mendukung kedaulatan energi, penggunaan B50 juga diproyeksikan memberikan dampak positif bagi lingkungan melalui penurunan emisi gas rumah kaca. KAI menilai program ini selaras dengan visi perusahaan dalam menghadirkan moda transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Indonesia.
“Kami terus melakukan kajian dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar implementasi B50 ini dapat berjalan lancar. Penggunaan biodiesel selama ini terbukti efektif dan kami yakin peningkatan kadarnya menjadi 50 persen akan membawa dampak positif yang lebih besar bagi lingkungan dan penghematan devisa negara,” lanjut Anne.
Implementasi B50 pada sektor transportasi merupakan salah satu prioritas dalam kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Dengan kesiapan infrastruktur dan armada yang dimiliki, KAI memosisikan diri sebagai salah satu pilar utama dalam keberhasilan program swasembada energi yang ditargetkan pemerintah dalam waktu dekat.(rk)



