KESEHATAN
Trending

Menolak Maklum: Pikun Bukan Bagian Normal Penuaan

radarkarawang.id, JAKARTA — Fenomena penurunan daya ingat atau pikun pada lanjut usia (lansia) sering kali dianggap sebagai konsekuensi alami dari proses penuaan, padahal kondisi ini merupakan gejala klinis dari sindrom demensia yang memerlukan perhatian medis serius. Memperingati Bulan Alzheimer Sedunia setiap September, otoritas kesehatan dan praktisi menekankan pentingnya deteksi dini guna menekan laju prevalensi demensia di Indonesia yang kini diperkirakan telah mencapai 1,2 juta jiwa.

Demensia bukanlah penyakit tunggal, melainkan sebuah sindrom yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, memori, hingga perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit Alzheimer tercatat sebagai penyebab paling umum, berkontribusi pada 60 hingga 80 persen kasus demensia secara global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, dan angka ini diprediksi akan terus melonjak seiring bertambahnya populasi lansia.

Narasi “Jangan Maklum dengan Pikun” menjadi pijakan utama dalam mengubah persepsi publik. Selama ini, stigma bahwa pikun adalah hal wajar membuat banyak keluarga terlambat mencari bantuan medis, sehingga penderita baru tertangani saat kondisi sudah memasuki stadium berat.

“Pikun bukan bagian normal dari penuaan. Jangan maklum dengan pikun. Deteksi dini sangat penting agar penderita bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan kualitas hidupnya tetap terjaga,” demikian pernyataan resmi dalam kampanye literasi kesehatan tersebut.

Secara medis, demensia mengakibatkan kerusakan sel saraf dan koneksinya di otak. Gejalanya sangat bervariasi tergantung pada bagian otak mana yang terdampak. Masyarakat diminta mewaspadai sepuluh gejala umum, di antaranya gangguan daya ingat yang sering, kesulitan fokus, sulit melakukan tugas harian yang familier, hingga disorientasi waktu dan tempat. Gejala lain yang signifikan adalah munculnya masalah komunikasi, salah meletakkan barang secara kronis, hingga perubahan kepribadian dan perilaku sosial.

Meskipun usia merupakan faktor risiko utama, para ahli menegaskan bahwa demensia dapat dicegah atau diperlambat melalui intervensi gaya hidup sejak dini. Langkah preventif meliputi aktivitas fisik secara rutin, konsumsi nutrisi seimbang, menjaga kesehatan jantung, serta terus memberikan stimulasi mental pada otak melalui kegiatan membaca atau bersosialisasi.

“Dementia is a syndrome – usually of a chronic or progressive nature – that leads to deterioration in cognitive function (i.e. the ability to process thought) beyond what might be expected from the usual consequences of biological ageing.”

Sebagai langkah strategis, masyarakat diimbau untuk segera melakukan konsultasi dengan tenaga profesional jika menemukan tanda-tanda penurunan kognitif pada anggota keluarga. Penanganan yang cepat tidak hanya bertujuan untuk memperlambat progresivitas penyakit, tetapi juga memberikan kesempatan bagi lansia untuk tetap berdaya dan menua dengan bermartabat.

“Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, kita dapat memberikan kesempatan bagi lansia untuk menua dengan bermartabat dan tetap berdaya.” (rk)

Related Articles

Back to top button