
PURWAKARTA, RAKA – Warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikolotok, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengeluhkan bau asap menyengat akibat terbakarnya tumpukan sampah di lokasi tersebut.
Hingga Kamis (9/7/2026), asap masih muncul dari sejumlah titik di area TPA. Asap yang terbawa angin tidak hanya mengganggu aktivitas di sekitar lokasi, tetapi juga masuk hingga ke permukiman warga.
Kasim, penggembala sapi yang sehari-hari beraktivitas di kawasan TPA Cikolotok, mengatakan kondisi asap saat ini memang lebih baik dibandingkan ketika api masih membesar.
“Sekarang asapnya putih karena apinya sudah tidak terlalu besar. Kalau waktu kebakaran, asapnya hitam sampai enggak kelihatan apa-apa, hewan juga enggak kelihatan,” kata Kasim.
Menurut Kasim, asap dari tumpukan sampah yang terbakar tetap mengganggu aktivitas warga di sekitar TPA. Bahkan, asap yang terbawa angin juga dirasakan hingga kawasan Margasari.
“Yang paling terganggu itu warga yang punya penyakit sesak napas. Kalau asapnya terhirup, pasti mengganggu. Rumah saya di daerah Margasari, dekat Bumi Perkemahan, asapnya juga masih sampai ke sana,” ujarnya.
Kasim berharap titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan sepenuhnya. Menurut dia, proses penanganan menghadapi kendala karena sebagian lokasi titik api berada jauh dari akses jalan.
“Harusnya segera dipadamkan. Katanya memang sulit karena lokasinya jauh dari akses jalan. Kalau dekat jalan mungkin lebih mudah dipadamkan,” ucap Kasim.
Keluhan serupa disampaikan Darsono, warga Kampung Cikolotok. Ia mengatakan permukiman tempat tinggalnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari TPA.
Menurut Darsono, asap kerap masuk ke kawasan permukiman ketika angin bertiup dari arah TPA.
“Asap itu sampai. Setiap ada angin ke sini, ya pasti ke sini. Ini jaraknya sekitar 500 meter,” kata Darsono.
Darsono mengatakan, bau asap dari TPA sangat mengganggu kenyamanan warga. Kondisi tersebut terutama dirasakan pada malam hingga pagi hari.
“Sangat-sangat mengganggu. Mudah-mudahan secepatnya ditangani, dipadamkan apinya. Yang dirasakan itu tidak enak. Yang tidak punya penyakit juga tidak enak, apalagi yang punya penyakit. Sesak, sesak,” ujarnya.
Menurut Darsono, Kampung Cikolotok menjadi permukiman yang lokasinya paling dekat dengan area TPA. Karena itu, bau asap terasa lebih menyengat pada malam hari.
“Tiap malam sudah paling menyengat. Kampung Cikolotok ini yang paling dekat dengan TPA. Mudah-mudahan cepat ditangani dan dipadamkan,” kata Darsono.
Meski bau asap cukup menyengat, Darsono mengaku belum mengetahui adanya warga di sekitar tempat tinggalnya yang harus mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan akibat paparan asap.
“Kalau di sini belum, belum. Tapi memang baunya sangat menyengat,” ujarnya.
Kampung Cikolotok berada di Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta. Permukiman tersebut dihuni sekitar 170 kepala keluarga dan menjadi salah satu kawasan yang paling dekat dengan TPA Cikolotok.
TPA Cikolotok memiliki luas sekitar 10 hektar. Dari luas tersebut, area yang sempat terbakar diperkirakan mencapai satu hingga dua hektar.
Di tengah proses penanganan kebakaran, aktivitas pembuangan sampah di TPA Cikolotok tetap berjalan. Setiap hari, sekitar 160 ton sampah dari berbagai wilayah di Kabupaten Purwakarta masuk ke lokasi tersebut.
Warga berharap penanganan kebakaran segera dituntaskan agar asap dan bau menyengat tidak terus mengganggu masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar TPA Cikolotok. (yat)



