
PURWAKARTA, RAKA – Pemerintah Kabupaten Purwakarta terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Hingga awal Agustus 2026, sedikitnya 247.000 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Meski bantuan terus disalurkan, jumlah warga terdampak masih cukup besar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta mencatat sebanyak 27.719 jiwa atau 8.780 kepala keluarga (KK) di sembilan kecamatan masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Purwakarta Heryadi Erlan mengatakan, distribusi air bersih akan terus dilakukan selama musim kemarau masih berlangsung. Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah wilayah terdampak dapat bertambah apabila hujan belum juga turun.
“Sejauh ini pemerintah hanya bisa menyalurkan bantuan air bersih, tetapi wilayah yang terdampak semakin lama akan semakin meluas apabila tidak turun hujan,” kata Erlan, Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan data BPBD, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Tegalwaru, Bungursari, Bojong, Maniis, Plered, Pondoksalam, Babakancikao, Wanayasa, dan Pasawahan.
Sedikitnya terdapat 14 desa dan kelurahan yang mengalami krisis air bersih sehingga pasokan air harus dikirim menggunakan mobil tangki.
Diketahui, Desa Batutumpang menjadi wilayah yang paling parah terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Camat Tegalwaru Endang Saepudin mengatakan, sumber air yang biasa dimanfaatkan warga sudah tidak lagi mencukupi sehingga kebutuhan sehari-hari hanya dapat dipenuhi melalui bantuan dari berbagai pihak.
“Saat ini warga mengandalkan bantuan dari BPBD, PMI, PDAM, serta bantuan dari pihak swasta maupun perorangan,” kata Endang.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Purwakarta telah merencanakan pembangunan jaringan pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menuju Desa Batutumpang sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih.
Sementara menunggu pembangunan jaringan tersebut, PDAM menyediakan bak penampungan air yang secara rutin diisi menggunakan mobil tangki.
Dampak musim kemarau juga terlihat di kawasan pesisir Waduk Jatiluhur, tepatnya di Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur. Pantauan Kompas.com di kawasan Tanggul Ubrug menunjukkan permukaan air waduk menyusut cukup signifikan sehingga memunculkan hamparan lahan yang sebelumnya terendam.
Lahan yang mengering itu kini dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai jenis tanaman palawija, seperti kacang tanah, singkong, ubi, hingga jagung.
Salah seorang warga, Oji, mengatakan lahan dasar waduk telah dimanfaatkan masyarakat setiap musim kemarau dalam dua tahun terakhir. Menurut dia, berkebun di dasar waduk menjadi cara warga memanfaatkan lahan yang muncul akibat surutnya permukaan air.
“Sudah dua tahun kebelakang. Setiap musim kemarau saya berkebun di sini. Kalau air surut ya dikebunin, kalau banjir ya enggak apa-apa. Warga sini sudah biasa memanfaatkan tanah yang muncul,” ujar Oji.
Ia mengatakan, tanah dasar waduk cukup subur sehingga hasil panen dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam satu musim kemarau, warga bahkan dapat menanam kacang tanah hingga dua kali.
“Kalau kemarau hasilnya bagus, Alhamdulillah buat makan. Kalau ada yang beli ya dijual, kalau enggak ya dimakan sendiri. Dulu pernah juga gagal panen karena air keburu naik, jadi berkebun di sini hanya bisa dilakukan selama musim kemarau,” katanya.
Meski memberikan manfaat, warga menyadari lahan tersebut hanya dapat dimanfaatkan sementara. Saat musim hujan tiba dan permukaan Waduk Jatiluhur kembali naik, seluruh area pertanian musiman itu akan kembali terendam air. (yat)



