
PURWAKARTA, RAKA – Musim panen kopi tahun ini tidak banyak memberikan hasil bagi para petani kopi di Purwakarta. Hal tersebut salah satunya dirasakan oleh Asep Rahmat Saleh Setiaji, petani kopi di Kecamatan Kiarapedes.
Biasanya, dari panen kopi yang berlangsung sekitar Maret hingga September, Asep bisa memperoleh keuntungan bersih antara Rp 6 juta sampai Rp 15 juta.
Namun, pada musim panen 2026, pendapatannya merosot tajam. Dalam periode Maret hingga Juni, ia hanya menerima keuntungan sekitar Rp 1,1 juta dari penampung kopi.
Penurunan pendapatan itu terjadi ketika kebun kopi miliknya menghadapi sejumlah persoalan sekaligus. Mulai dari kemarau, serangan hama, hingga pencurian buah kopi.
“(Produksi kopi) tahun ini bagi petani bisa dibilang kurang bersahabat,” kata Asep, Senin (9/8/2026).
Harga buah kopi atau ceri saat ini sebenarnya masih berada di kisaran Rp 12.000 hingga Rp 14.000 per kilogram. Namun, harga tersebut tidak banyak membantu karena jumlah buah yang bisa dipanen menurun.
Kemarau membuat kondisi tanaman tidak optimal. Di sisi lain, serangan hama juga sulit dikendalikan. Belum selesai dengan persoalan tersebut, Asep harus menghadapi pencurian di kebunnya.
“Yang paling menyakitkan waktu musim sekarang ada hama yang susah untuk kita atasi dan ada yang mencuri dengan cara dirorod (dicabut paksa), bahkan yang punya saya ada yang ditebang. Mungkin, lagi susah duit jadi bagaimanapun caranya dilakukan untuk mencari uang,” ujarnya.
Pencurian kopi yang dialami Asep tidak hanya menyebabkan buah yang sudah siap panen hilang. Pelaku mengambil buah dengan cara dirorod atau mencabutnya secara paksa dari tanaman. Cara tersebut membuat tangkai kopi ikut rusak.
Padahal, petani biasanya memetik buah satu per satu dari tangkainya. Dengan cara tersebut, tanaman masih dapat kembali menghasilkan buah pada periode berikutnya.
Jika tangkai rusak, tanaman membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali berbuah karena harus menumbuhkan tangkai baru.
Asep memperkirakan hampir separuh bagian kebunnya terdampak aksi pencurian. Tidak hanya dicabut paksa, beberapa pohon kopi miliknya juga ditebang tanpa izin.
Kerusakan tersebut membuat kehilangan petani menjadi berlipat. Buah yang dicuri berarti kehilangan pendapatan pada musim panen berjalan, sedangkan pohon yang rusak atau ditebang berpotensi mengurangi hasil produksi pada musim berikutnya.
Berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, produksi kopi daerah tersebut masih banyak berasal dari Kecamatan Kiarapedes.
Pada 2025, luas tanam kopi robusta di Kiarapedes mencapai 130,60 hektare dengan hasil panen 84,36 ton. Sementara itu, luas tanam kopi arabika mencapai 248 hektare dengan produksi 97,60 ton.
Secara keseluruhan, luas tanam kopi robusta di Kabupaten Purwakarta mencapai 324,06 hektare dengan hasil panen 186,61 ton. Untuk kopi arabika, luas tanam mencapai 408 hektare dengan produksi 136,10 ton.
Besarnya luas lahan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan produksi. Hasil panen masih menghadapi berbagai kendala, termasuk kondisi cuaca dan gangguan tanaman.
Musim kemarau menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi petani karena dapat memengaruhi kondisi tanaman dan hasil buah.
Di tengah turunnya produksi, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mendorong agar kopi lokal semakin banyak dikonsumsi masyarakat.
Kepala Dispangtan Purwakarta Hadyanto Purnama mengatakan, penggunaan produk perkebunan lokal perlu ditingkatkan.
“Sudah ada Surat Edaran Gubernur terkait dengan penggunaan produk lokal hasil perkebunan,” kata Hadyanto.
Pemerintah daerah mendorong kopi asli Purwakarta dipopulerkan melalui kedai kopi dan restoran.
Selain itu, setiap kantor perangkat daerah direncanakan menyediakan kopi dan teh lokal untuk pegawai maupun tamu.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka pasar yang lebih luas bagi kopi produksi petani Purwakarta.
Bagi Asep, meningkatnya serapan kopi lokal tentu menjadi harapan. Sebab, ketika hasil panen turun akibat kemarau dan hama, pencurian justru membuat pendapatan petani semakin tertekan. (yat)



