KARAWANG, RAKA – Jalan lintas Jenebin – Sumedangan, Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, yang amblas akibat tergerus aliran Sungai Citarum mulai mendapat penanganan. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melakukan pekerjaan awal untuk memperkuat tebing sungai sekaligus mencegah longsoran semakin meluas.
Kerusakan jalan terjadi lantaran badan jalan berada di sisi tikungan Sungai Citarum yang terus tergerus arus. Kondisi tersebut membuat bagian dalam jalan kehilangan penopang hingga akhirnya amblas.
Kepala Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur E. Heryana mengatakan, proses rekonstruksi mulai dilakukan pada Rabu (9/9). Pekerjaan diawali dengan penanganan di sekitar lokasi untuk selanjutnya dibuat pengaman tebing sungai.
“Dimulai dilakukan pengerjaan dalam rangka nanti pembuatan pagar penahan arus sungai. Bentuknya nanti dengan beronjong atau sipil pemegaran,” katanya, Rabu (9/9).
Menurutnya, penanganan tersebut sudah lama dinantikan masyarakat. Ia berharap proses perbaikan dapat segera diselesaikan karena jalan tersebut menjadi salah satu akses penting bagi warga sekitar.
Namun, selama pekerjaan berlangsung, akses jalan akan ditutup total, terutama ketika alat berat melakukan pekerjaan di atas badan jalan. Hal itu dilakukan untuk menghindari risiko kecelakaan terhadap pengguna jalan maupun pekerja.
Sebagai jalur alternatif, masyarakat pengguna sepeda motor dapat melintas melalui kawasan Perumahan Resinda. Kendati demikian, Heryana meminta warga tetap tertib lalu lintas selama menggunakan jalur tersebut.
“Kecepatan jangan lebih dari 20 kilometer per jam. Kendaraan dengan knalpot bising atau brong jangan melintas. Kendaraan juga harus tertib, maksimal dua orang dan wajib menggunakan helm,” tegasnya.
Salah satu warga Desa Purwadana, Ikhsan, menyambut baik dimulainya penanganan jalan tersebut.
Menurutnya, perbaikan sudah lama dibutuhkan warga sehingga pengerjaan yang akhirnya dimulai dinilai menjadi kabar baik. “Bagus sih, memang dari dulu dibutuhkan. Biar cepat dikerjakan. Sekarang sudah waktunya, bagus, cepat ada perbaikan jalan kita,” ujarnya.
Ia mengaku, kerusakan jalan selama ini cukup memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi akses yang menyempit membuat warga harus lebih berhati-hati dan terkadang mengalami kesulitan ketika melintas.
“Dampaknya agak susah juga, repot kalau jalannya kecil. Sedikit-sedikit harus bergantian,” ujarnya.
Meski demikian, Ikhsan mengapresiasi langkah pemerintah desa yang mendorong penanganan jalan tersebut. Ia berharap perbaikan tidak hanya dilakukan sementara, tetapi dapat menghasilkan konstruksi yang kuat sehingga persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Kami sebagai masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Purwadana dan pemerintah daerah yang telah mendorong agar jalan ini segera dilakukan perbaikan,” tuturnya.
Sementara itu, Penata Teknis BBWS Citarum Endra Jaya mengatakan, penanganan yang dilakukan saat ini masih bersifat darurat. Tahap awal difokuskan pada pembersihan lahan atau stripping untuk mengetahui secara jelas titik longsoran dan panjang area yang terdampak.
“Kita akan membuat stripping atau pembersihan lahan, clear area dulu supaya terlihat jelas mana titik yang longsor, terdampak jelas dan berapa meter panjangnya yang harus ditangani,”ucapnya.
Ia menjelaskan, BBWS Citarum belum dapat menangani seluruh area karena bentang kerusakan yang cukup panjang. Untuk sementara, penanganan diprioritaskan pada titik yang dianggap paling rawan agar akses masyarakat dapat kembali digunakan.
“Kita menangani untuk hal daruratnya saja dulu di sini. Kita tidak bisa menyelesaikan semuanya, karena dari ujung sampai hilir itu sangat panjang. Kita antisipasi supaya masyarakat bisa melalui jalan ini sementara waktu,” ujarnya.
Kondisi medan juga menjadi kendala dalam proses pengerjaan. Alat berat tidak dapat masuk dari sisi ujung jalan karena kondisi tanah sudah amblas dan sedimentasi cukup tinggi. Alat berat kemudian diarahkan melalui jalur tengah menuju titik yang mengalami longsor dan dinilai paling membutuhkan penanganan.
Endra menambahkan, penanganan dilakukan melalui penguatan tebing untuk mencegah pergerakan tanah semakin parah. Sementara terkait durasi pengerjaan, BBWS Citarum belum dapat memastikan kapan seluruh proses penanganan akan rampung. Petugas masih harus melakukan pemetaan kondisi tanah untuk mengetahui titik tanah keras yang dapat menjadi dasar konstruksi.
“Kita belum bisa mengetahui tanah kerasnya ada di titik mana. Yang pasti kita harus temukan titik keras tanah aslinya supaya tidak terjadi gelincir lagi,”tutupnya. (zal)



