Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Purwakarta
Trending

Sarah Alzena Raih Prestasi di Lomba Jaipong Purwakarta

PURWAKARTA, RAKA – Musik mulai mengalun. Di hadapan juri dan penonton, Sarah Alzena Purwaci seorang siswi sekolah dasar di Purwakarta melangkah ke atas panggung dengan balutan busana tari. Usianya baru 10 tahun, tetapi saat itu ia harus menanggung satu tantangan besar: tampil seorang diri di hadapan banyak orang.

Bagi Sarah, panggung Pasanggiri Jaipong di Toserba Yogya Purwakarta, Minggu (13/9/2026), bukan panggung biasa. Itu merupakan penampilan perdananya dalam sebuah perlombaan tari.

Rasa panik sempat muncul sebelum namanya dipanggil. Banyaknya penonton membuat kepercayaan dirinya goyah. Namun, Sarah berusaha tetap berdiri, mengingat pesan dari guru Sanggar Tari Putri Ayesha, Vera, serta sang ibu yang terus menyemangatinya.

“Saya baru pertama kali tampil. Sempat panik karena dilihat banyak orang dan banyak penonton. Tapi saya mencoba untuk percaya diri. Saya ingat pesan dari guru Sanggar Tari Putri Ayesha, Ibu Vera, dan mamah yang selalu mengingatkan dan memberikan semangat kepada saya,” ujar Sarah.

Dengan iringan lagu Sancang Gugat, Sarah mulai menari. Gerakannya mengikuti alunan musik, sementara rasa gugup perlahan ia tekan. Setiap gerakan menjadi upaya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melewati ketakutan yang sejak awal menghampiri.

Tidak semua rasa takut hilang. Namun, Sarah berhasil menuntaskan penampilannya hingga musik berhenti.

Alih-alih langsung tersenyum, Sarah justru meneteskan air mata setelah menyelesaikan tariannya. Ketegangan yang sejak sebelum tampil dipendam seolah pecah bersamaan dengan berakhirnya musik.

Tubuhnya bahkan sempat gemetar. Sarah mengaku tidak benar-benar memahami mengapa dirinya tiba-tiba merasa sedih dan terharu.

“Entah kenapa setelah selesai menari, tiba-tiba saya merasa sedih sampai keluar air mata. Pokoknya saat itu saya sampai tidak bisa bicara dan gemetar,” ungkapnya.

Tangisan tersebut bukan karena kegagalan. Justru sebaliknya, air mata itu menjadi bagian dari perjalanan Sarah saat menghadapi pengalaman pertamanya tampil di depan banyak orang.

Di usia yang masih belia, Sarah harus belajar mengendalikan rasa takut, menjaga konsentrasi, dan menyelesaikan tarian meski sorotan penonton membuatnya gugup.

Perjuangan itu akhirnya terbayar. Sarah berhasil meraih Juara III Pasanggiri Jaipong kategori SD kelas IV hingga VI yang digelar Grafity Event Organizer di Toserba Yogya Purwakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Prestasi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Sarah. Ia tidak hanya pulang membawa piala, tetapi juga pelajaran penting bahwa keberanian sering kali muncul setelah seseorang berani mengambil langkah pertama.

“Alhamdulillah, saya sangat senang bisa mendapatkan Juara III. Saya akan terus belajar dan berlatih supaya ke depannya bisa tampil lebih baik lagi dan bisa meraih prestasi yang lebih tinggi,” katanya.

Bagi Sarah, hasil tersebut menjadi dorongan untuk terus mengasah kemampuan menarinya. Ia menyadari masih banyak hal yang perlu dipelajari, terutama untuk membangun rasa percaya diri saat tampil di depan umum.

Dukungan juga datang dari sang ibu, Sri, yang mengaku bangga melihat putrinya mampu melewati rasa panik dan gugup hingga meraih prestasi.

Menurut Sri, Juara III memiliki arti khusus karena diraih dalam pengalaman pertama Sarah mengikuti lomba Pasanggiri Jaipong.

“Alhamdulillah, kami sebagai orang tua tentunya sangat bersyukur dan bangga atas prestasi yang diraih Sarah. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba Pasanggiri Jaipong, dan Alhamdulillah bisa meraih Juara III,” ujar Sri.

Ia berharap prestasi tersebut tidak membuat Sarah cepat berpuas diri. Sebaliknya, pencapaian itu diharapkan menjadi motivasi untuk terus berlatih, meningkatkan kepercayaan diri, dan semakin mencintai seni budaya Sunda.

“Kami akan terus memberikan dukungan kepada Sarah untuk mengembangkan bakatnya. Semoga prestasi ini menjadi motivasi agar Sarah semakin semangat berlatih, semakin percaya diri, dan terus mencintai seni budaya Sunda, khususnya tari Jaipong,” katanya.

Ajang Pasanggiri Jaipong tersebut diikuti sejumlah kategori peserta, mulai dari Taman Kanak-kanak, SD kelas I hingga III, SD kelas IV hingga VI, hingga kategori SMP dan SMA.

Keikutsertaan Sarah menjadi salah satu gambaran bagaimana seni tari tradisional masih diperkenalkan dan dikembangkan sejak usia sekolah dasar.

Bagi Sarah, panggung perlombaan itu mungkin menjadi langkah kecil. Namun, keberaniannya menghadapi penonton, menyelesaikan tari Sancang Gugat, hingga meraih Juara III menunjukkan adanya proses belajar yang tidak sederhana.

Air mata yang jatuh setelah penampilan menjadi saksi bahwa perjuangan tidak selalu terlihat dari gerakan di atas panggung. Ada rasa takut, dukungan keluarga, nasihat guru, dan keberanian yang harus dikumpulkan sebelum seorang anak mampu tampil percaya diri.

Sarah mungkin baru memulai perjalanan prestasinya. Tetapi dari panggung Pasanggiri Jaipong di Purwakarta, ia telah belajar satu hal penting: rasa gugup bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Dengan latihan, dukungan, dan keberanian, rasa takut itu justru bisa berubah menjadi kebanggaan.

Dan bagi Sarah Alzena Purwaci, air mata setelah tariannya selesai kini menjadi bagian dari cerita manis saat pertama kali menaklukkan panggung dan membawa pulang Juara III. (yat)

Related Articles

Back to top button