
PURWAKARTA, RAKA – Sebanyak 10.528 hektare lahan baku sawah di Kabupaten Purwakarta belum bisa ditanami padi akibat musim kemarau berkepanjangan. Menyusutnya pasokan air irigasi membuat ribuan hektare lahan belum kembali memasuki musim tanam.
Dari total 16.283 hektare lahan baku sawah di Purwakarta, saat ini hanya 5.755 hektare yang masih ditanami padi. Kondisi tersebut menunjukkan sekitar 64 persen lahan baku sawah belum ditanami padi di tengah keterbatasan air.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, Hadyanto Purnama, mengatakan lahan yang masih ditanami padi umumnya berada di kawasan pegunungan. Wilayah tersebut masih memiliki sumber mata air, ditambah hujan yang beberapa kali turun di tengah musim kemarau.
“Sisanya (10.528 hektare) itu belum tanam lagi karena kemarau. Jadi, yang tanam lima ribu sekian itu standing crop atau tanaman padi yang eksisting,” kata Hadyanto, Kamis (1/10/2026).
Sebaliknya, lahan di kawasan tadah hujan menghadapi keterbatasan pasokan air karena hanya mengandalkan hujan. Sejumlah saluran irigasi dan tempat penampungan air mengalami penyusutan, bahkan mengering, sehingga petani belum dapat kembali menanam padi.
Sebagian petani di kawasan tersebut memilih menanam palawija yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Sementara itu, petani yang hendak menanam padi harus menunggu hujan turun atau mencari sumber air alternatif untuk mengairi sawah.
“Di lahan tadah hujan itu juga ada yang tanam, tapi bukan padi, tanamnya palawija yang lain yang tahan terhadap cuaca. Petani menunggu hujan turun (untuk kembali menanam padi),” ujarnya.
Salah satu titik yang mengalami penyusutan cadangan air adalah Situ Cigangsa di Desa Campakasari, Kecamatan Campaka. Muka air di embung tersebut turun signifikan hingga air tidak bisa lagi dialirkan melalui pintu air menuju saluran irigasi.
Untuk memanfaatkan sisa air, diperlukan mesin pompa yang dapat menyedot air dari embung dan mengalirkannya ke lahan pertanian. Namun, upaya tersebut bergantung pada ketersediaan air yang masih tersisa di lokasi penampungan.
Kementerian Pertanian sebelumnya telah menyalurkan 34 unit pompa air kepada kelompok tani di tujuh kecamatan di Kabupaten Purwakarta. Bantuan tersebut diharapkan membantu petani memperoleh pasokan air dan kembali melakukan penanaman.
Hadyanto mengatakan pompa air dapat membantu pengairan di sejumlah lokasi yang masih memiliki cadangan air. Meski demikian, ia belum mengetahui apakah kelompok tani di sekitar Situ Cigangsa telah menerima bantuan pompa tersebut.
“Dengan bantuan alat pompa air itu membantu petani untuk menanam kembali. Terus ada beberapa titik embung itu untuk melakukan penanaman. Walaupun surut, masih bisa ditarik airnya. Tapi, saya belum tahu di Cigangsa itu sudah ada kelompok tani yang dapat alat pompa itu atau belum,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, Dispangtan Purwakarta menyatakan belum menerima keluhan berarti dari petani terkait dampak kemarau. Namun, luas lahan yang belum ditanami padi memperlihatkan besarnya kendala ketersediaan air terhadap dimulainya kembali musim tanam di sejumlah wilayah.
Dengan 10.528 hektare lahan baku sawah yang belum ditanami padi, ketersediaan air menjadi persoalan penting untuk memulai kembali musim tanam. Pemanfaatan pompa dan sisa cadangan air embung menjadi salah satu upaya yang dilakukan, sementara petani di kawasan tadah hujan masih menunggu hujan untuk kembali mengolah sawahnya. (yat)



