
Kementerian Pertanian (Kementan) secara intensif memperkuat koordinasi dengan jejaring Champion Cabai Indonesia sebagai langkah strategis untuk menstabilkan harga cabai di pasar nasional. Upaya ini difokuskan pada penguatan distribusi pasokan dari wilayah sentra produksi menuju daerah-daerah yang mengalami defisit atau kekurangan stok.
Langkah proaktif ini diambil menyusul proyeksi produksi cabai rawit nasional yang diperkirakan mencapai 133,1 ribu ton pada Oktober 2026. Pemerintah menilai ketersediaan pasokan yang cukup harus dibarengi dengan mekanisme distribusi yang merata guna mencegah fluktuasi harga yang ekstrem.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya telah menginstruksikan jajaran Kementan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memantau langsung kondisi di lapangan. Beliau menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga agar tetap terjangkau bagi konsumen namun tetap memberikan keuntungan yang layak bagi para petani.
“Ini harus ditindaklanjuti. Jangan sampai harga cabai, ayam di tingkat konsumen tinggi padahal tingkat produsen rendah,” tegas Mentan Andi Amran Sulaiman.
Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, menjelaskan bahwa kelancaran distribusi merupakan faktor krusial dalam pengendalian harga. Saat ini, Kementan mengoptimalkan peran Champion Cabai yang memiliki kemampuan logistik untuk memobilisasi hasil panen ke wilayah terdampak.
“Kita sudah koordinasi Bapanas, Kemendagri juga, dan dinas di daerah. Kita punya champion yang memiliki logistik untuk daerah defisit. Kita mengirim ke daerah-daerah defisit, seperti dari Surabaya kita kirim ke Sulawesi Utara. Yang Halmahera sekarang proses dari Malang,” ujar Muhammad Taufiq Ratule.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Ardhi Wibowo, memastikan bahwa aktivitas produksi di tingkat petani tetap berjalan stabil. Pihaknya berkomitmen penuh untuk mendukung pemerintah dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan.
“Produksi cabai tetap berjalan. Petani dan Champion Cabai di berbagai daerah terus melakukan penanaman dan panen sesuai kondisi pertanaman masing-masing. Kami siap berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga ketersediaan pasokan, terutama ketika ada wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan,” kata Ardhi Wibowo.
Selain fokus pada distribusi jangka pendek, Kementan juga melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap siklus tanam. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, menyatakan bahwa pemantauan sejak dini sangat diperlukan untuk memitigasi risiko gangguan pasokan di masa mendatang.
“Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan cabai hari ini, tetapi juga kesinambungan produksinya. Karena itu, luas tanam, pertanaman yang sedang berjalan, dan potensi panen terus dipantau agar kita dapat mengetahui lebih awal kondisi pasokan pada periode berikutnya,” pungkas Sudi Mardianto.



