KARAWANG, RAKA – Curah hujan di Jawa Barat diprediksi meningkat hingga 100-300 milimeter per bulan pada November 2026. Namun, peningkatan tersebut belum merata karena wilayah utara Jawa Barat masih berpotensi mengalami curah hujan rendah, sementara sifat hujan di sebagian besar wilayah diperkirakan tetap berada di bawah normal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam mengantisipasi dampak musim kemarau dan fenomena El Niño, termasuk potensi kekeringan serta krisis air bersih di Kabupaten Karawang.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Karawang H. Ari Maulana, SKM., MM., mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Jawa Barat selama September hingga November 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah.
“Pada September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi hanya berkisar 0-50 milimeter per bulan dengan sifat hujan bawah normal. Memasuki Oktober, curah hujan diperkirakan mulai meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih didominasi kategori rendah,”katanya, Senin (19/10).
Sementara pada November, sambungnya, peningkatan curah hujan diprediksi lebih signifikan, dengan sebagian besar wilayah berpotensi mengalami curah hujan kategori menengah sebesar 100-300 milimeter per bulan. Meski demikian, wilayah utara Jawa Barat masih diprakirakan mengalami curah hujan rendah.
“Perbedaan kondisi curah hujan tersebut membuat upaya antisipasi kekeringan tetap diperlukan. Terlebih, peningkatan curah hujan yang diprediksi terjadi pada November belum tentu langsung mengatasi kekurangan air di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan,”terangnya.
Ari menyampaikan, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan, terutama di daerah yang rentan mengalami kekurangan sumber air. Pengelolaan sumber daya air juga harus dilakukan secara efektif melalui pemantauan ketersediaan air baku serta optimalisasi pemanfaatan waduk, embung, situ, dan sumber air lainnya.
Selain itu, sektor pertanian perlu mengantisipasi dampak perubahan kondisi cuaca dengan menyesuaikan pola dan jadwal tanam berdasarkan ketersediaan air serta informasi prakiraan iklim.
“Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan juga perlu diperkuat melalui pemantauan kawasan rawan serta kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran,”paparnya.
Di sisi lain, koordinasi antarperangkat daerah dan pemerintah kabupaten/kota dinilai penting untuk menyusun langkah kontingensi, memantau perkembangan kondisi iklim, serta menyosialisasikan penghematan air kepada masyarakat.
“Informasi prakiraan iklim dan peringatan dini BMKG juga perlu dimanfaatkan secara berkala sebagai dasar pengambilan kebijakan dan penentuan langkah penanganan selama musim kemarau 2026,”ujarnya.
Dengan prediksi curah hujan yang masih didominasi sifat bawah normal, masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tidak lengah meskipun hujan diperkirakan meningkat pada November. Kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk meminimalkan dampak kekeringan terhadap kebutuhan air bersih, pertanian, dan lingkungan. (zal)
KIRIM AIR: BPBD Kabupaten Karawang mengirim air bersih untuk membantu masyarakat yang mengalami kekeringan selama musim kemarau.



