
KARAWANG, RAKA- Usaha kriya asal Karawang, Karasi 19, mendapat perhatian dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2026 di Jakarta, 24–25 Oktober 2026.
Produk kreatif yang memanfaatkan bahan limbah tersebut dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan ekonomi hijau melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.
Karasi 19 mengolah berbagai bahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, mulai dari tas, topi, selimut hingga beragam produk kriya lainnya. Upaya ini menunjukkan bahwa bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kreatif.
Dalam rangkaian Rakornas ICCN 2026, praktik usaha Karasi 19 mendapat respons positif dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Produk tersebut juga direkomendasikan sebagai salah satu contoh usaha berbasis ekonomi sirkular yang sejalan dengan semangat World Conference on Creative Economy (WCCE) dan agenda ekonomi hijau global.
Owner Karasi 19, Supriyadi, mengatakan bahwa pemanfaatan limbah bukan hal baru bagi usahanya. Selama kurang lebih enam tahun, Karasi 19 konsisten mengembangkan produk kriya dengan mengoptimalkan bahan yang tersedia agar memiliki fungsi, nilai estetika, dan nilai jual.
“Bagi kami, bahan limbah bukan sekadar sisa produksi yang harus dibuang. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, bahan tersebut bisa menjadi produk baru yang berkualitas dan memiliki nilai jual. Kami ingin menunjukkan bahwa usaha kriya dapat berkembang sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan limbah,” katanya, Selasa (27/10).
Menurutnya, konsep ekonomi sirkular menjadi bagian dari identitas usaha Karasi 19. Selain menghasilkan produk yang dapat digunakan masyarakat, pendekatan tersebut juga menjadi upaya untuk menggabungkan kreativitas, pengembangan bisnis, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Perkembangan Karasi 19 tidak terlepas dari dukungan jejaring ekonomi kreatif di daerah. Usaha tersebut telah menjalin kemitraan dengan Forum Ekraf Karawang untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk kriya lokal kepada pasar yang lebih luas.
Tim Koordinator Daerah ICCN Jawa Barat Lutfi Anshori mengatakan, bahwa dirinya bersama Supriyadi telah cukup lama bekerja sama mendorong Karasi 19 sebagai salah satu produk kriya unggulan Karawang.
Menurut Lutfi, keunggulan Karasi 19 tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada proses produksinya yang mengedepankan pemanfaatan bahan limbah. Pendekatan tersebut memberikan nilai tambah sekaligus menjadi pembeda di tengah persaingan produk kreatif.
“Karasi 19 memiliki keunggulan yang perlu terus diperkenalkan. Kami telah cukup lama bersama-sama mendorong promosi produk ini sebagai kriya unggulan Karawang. Penerapan ekonomi sirkular menjadi nilai tambah yang penting karena menunjukkan bahwa kreativitas lokal mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi,” ungkapnya.
Ia menilai, dukungan jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan agar produk kriya lokal tidak hanya dikenal di tingkat daerah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bagi Forum Ekraf Karawang, kemitraan dengan Karasi 19 menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui pendampingan, promosi, pengembangan jejaring, serta pembukaan akses pemasaran.
Perhatian terhadap Karasi 19 dalam Rakornas ICCN 2026 membuka peluang bagi produk kriya Karawang untuk mengambil bagian dalam perkembangan ekonomi kreatif yang berorientasi pada keberlanjutan.
Konsep ekonomi sirkular mendorong pemanfaatan sumber daya secara efisien, pengurangan limbah, serta penciptaan nilai ekonomi dari bahan yang masih dapat digunakan. Pendekatan ini juga berkaitan dengan upaya membangun pola produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Namun, untuk memperluas jangkauan pasar, Karasi 19 masih perlu menjaga konsistensi proses produksi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat kualitas dan desain produk agar mampu bersaing dengan produk sejenis. Selain itu, pengembangan pasar juga membutuhkan dukungan promosi dan konsumen yang mempertimbangkan nilai keberlanjutan dalam memilih produk.
Melalui kolaborasi dengan ICCN, Forum Ekraf Karawang, dan berbagai pemangku kepentingan, Karasi 19 diharapkan dapat memperluas peluang pemasaran sekaligus memperkenalkan potensi kriya berbasis limbah dari Karawang. Pengalaman Karasi 19 memperlihatkan bahwa pemanfaatan limbah dapat menjadi peluang pengembangan usaha kreatif.
Dengan pengolahan yang tepat, bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk yang memiliki fungsi, nilai estetika, dan nilai ekonomi, sekaligus mendukung upaya pengurangan limbah. (zal)



