
radarkarawang.id, ARAB SAUDI – Tradisi budidaya mawar yang menjadi ikon kebanggaan Kota Thaif, Arab Saudi, kini telah mendapatkan pengakuan dunia. UNESCO secara resmi menobatkan praktik pertanian dan warisan budaya budidaya mawar Thaif ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage).
Pengakuan ini bukan tanpa alasan. Thaif, yang terletak di dataran tinggi pegunungan Sarawat, memiliki iklim sejuk yang sangat ideal bagi pertumbuhan mawar Damaskus (Damask Rose). Selama berabad-abad, penduduk lokal telah menjaga tradisi menanam hingga memproses kelopak bunga mawar menjadi produk bernilai tinggi, seperti minyak mawar esensial yang sangat berharga.
Simbol Kehormatan dan Budaya Lokal Bagi masyarakat setempat, mawar Thaif bukan sekadar komoditas pertanian. Budaya memberikan sebotol minyak mawar kepada pasangan pengantin baru atau sebagai pengharum untuk menyambut tamu merupakan bentuk penghormatan tertinggi. Selain itu, minyak mawar hasil penyulingan tradisional dari Kota Thaif juga dikenal luas sering digunakan untuk mensucikan dinding luar Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah.
Dampak Pariwisata dan Ekonomi Setiap tahun, khususnya saat musim semi antara Maret hingga April, jutaan kuntum mawar bermekaran dan mengubah lanskap perbukitan Thaif menjadi hamparan warna merah muda yang memanjakan mata. Keindahan ini menarik ribuan wisatawan, baik jemaah umrah maupun pelancong internasional, untuk berkunjung ke perkebunan-perkebunan di wilayah Al-Hada dan Al-Shafa.
Dengan penetapan dari UNESCO, pemerintah Arab Saudi berkomitmen untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi ini. Langkah ini diharapkan dapat melindungi teknik penyulingan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi, sekaligus memperkuat posisi Thaif sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Timur Tengah. (rk)



