KARAWANG, RAKA- Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Karawang menyoroti masih tingginya aktivitas gelandangan dan pengemis (gepeng) serta anak jalanan (anjal) di wilayah Cikampek. Meski penertiban telah dilakukan berulang kali, keberadaan mereka dinilai sulit diatasi karena diduga adanya pihak-pihak yang melindungi atau mengondisikan aktivitas tersebut.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos Kabupaten Karawang, Hj Marwati, mengatakan kawasan Cikampek menjadi salah satu titik paling rawan terkait keberadaan gepeng dan anak jalanan. Bahkan, menurutnya, terdapat rumah kos yang diduga menjadi tempat singgah bagi para gepeng dan anjal.
”Wilayah Cikampek memang sangat krodit terkait keberadaan gepeng dan anak jalanan. Di sana ada tempat kos yang disediakan untuk mereka. Seperti ada pengondisian dan bekingnya,” katanya, Selasa (7/7).
Ia menjelaskan, Dinsos sudah beberapa kali melakukan operasi penertiban. Namun, upaya tersebut kerap mendapat hambatan. Saat petugas hendak membawa anak-anak jalanan untuk dibina, ada pihak yang menghalangi sehingga mereka tidak dapat diamankan.
”Kami sudah beberapa kali melakukan penertiban. Ketika akan membawa anak-anak jalanan, selalu ada orang yang menghalangi dan tidak mengizinkan mereka dibawa untuk dilakukan pembinaan,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sambungnya, Dinsos telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Cikampek. Berdasarkan hasil pembahasan bersama, penanganan anak jalanan dan gepeng di wilayah tersebut dinilai harus dilakukan secara bertahap agar lebih efektif.
Marwati menegaskan, meski menghadapi berbagai kendala di lapangan, Dinsos akan tetap menjalankan tugas sesuai kewenangannya dalam menertibkan dan membina para penyandang masalah kesejahteraan sosial. Ia juga mengungkapkan, mayoritas anak jalanan yang beraktivitas di Cikampek bukan merupakan warga Kabupaten Karawang, melainkan berasal dari daerah lain.
Setiap anak jalanan yang berhasil diamankan, lanjutnya, akan dibawa ke Rumah Singgah Karawang untuk mendapatkan pembinaan. Dinsos juga menawarkan berbagai pelatihan keterampilan dan usaha sebagai bekal agar mereka memiliki pekerjaan yang lebih layak. ”Namun, dari berbagai program pelatihan yang kami tawarkan, hanya sedikit yang bersedia mengikuti,” tutupnya. (zal)


