Karawang
Trending

Junk Food Picu Anemia & Stunting: Bahaya bagi Ibu Hamil

KARAWANG,RAKA – Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) yang semakin populer di kalangan generasi muda menjadi perhatian tenaga kesehatan di Kabupaten Karawang. Pola makan yang minim sayur dan buah dinilai dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil, sehingga berdampak pada kesehatan ibu maupun tumbuh kembang janin.

Bidan Koordinator Puskesmas Karawang, Evy Mei, mengatakan masih banyak ibu hamil yang mengalami anemia akibat kurangnya asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Menurutnya, pola makan generasi muda yang lebih memilih makanan instan dibandingkan makanan bergizi menjadi salah satu tantangan dalam upaya menekan angka anemia.

“Generasi sekarang kadang sudah tidak mengenal sayuran. Mereka lebih memilih ayam, daging, atau makanan instan. Padahal, anak yang sehat berawal dari ibu yang sehat. Apa yang dimakan ibu selama hamil akan menjadi sumber nutrisi bagi janin,” katanya.

Ia menjelaskan, makanan cepat saji umumnya tinggi kalori, gula, garam, dan lemak, tetapi rendah kandungan zat besi, vitamin, serta mineral yang dibutuhkan selama kehamilan. Jika pola makan tersebut berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi konsumsi makanan bergizi, ibu hamil lebih rentan mengalami anemia.

Menurut Evy, zat besi merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kebutuhan zat besi dapat dipenuhi melalui konsumsi sayuran hijau seperti bayam dan daun singkong, hati ayam, serta buah bit yang kaya akan kandungan zat besi.

Ia mengatakan, rendahnya kadar hemoglobin membuat pasokan oksigen ke organ tubuh ibu menjadi tidak optimal. Kondisi tersebut menyebabkan ibu hamil mudah lelah, lemas, pucat, hingga berisiko mengalami perdarahan saat proses persalinan karena kondisi fisik yang tidak prima.

“Kalau hemoglobinnya rendah, aliran oksigen ke seluruh tubuh juga tidak maksimal. Akibatnya, ibu menjadi lemas, bibir dan kuku tampak pucat, bahkan saat persalinan bisa tidak kuat mengejan. Dampaknya juga dirasakan bayi karena suplai nutrisi selama di dalam kandungan ikut terganggu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Evy mengungkapkan bahwa anemia selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), lahir prematur, hingga mengalami stunting akibat kurangnya pasokan oksigen dan nutrisi selama berada di dalam kandungan.

Karena itu, ia mengimbau perempuan, khususnya remaja putri dan calon ibu, mulai membiasakan pola makan bergizi seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, serta sumber protein dan zat besi. Menurutnya, pencegahan anemia sebaiknya dilakukan sejak usia remaja agar kondisi kesehatan ibu lebih siap saat memasuki masa kehamilan.(asy)

Related Articles

Back to top button