Aparat Desa Kampungsawah Buat Alat Ukur Muka Air dan Kincir Angin

MEMASANG ALAT UKUR TINGGI MUKA AIR CITARUM: Sejumlah aparat Desa Kampungsawah Kecamatan Jayakerta memasang alat ukur tinggi muka air Citarum.

Alat Pendeteksi Bencana dari Barang Bekas

JAYAKARTA, RAKA – Aparatur Desa Kampungsawah, Kecamatan Jayakerta membuat alat kesiapsiagaan bencana berupa alat ukur tinggi muka air Sungai Citarum dan kincir angin. Dua alat tersebut sebagai upaya antisipasi terjadinya banjir dan angin kencang.
Kepala Dusun Pasar Desa Kampungsawah Dede Saepul mengatakan, sebagai upaya mengantisipasi terjadinya banjir di Desa Kampungsawah, pihaknya telah menyiapkan tiga truk tanah yang dikemas dalam karung, untuk nantinya dijadikan tanggul darurat.

Selain itu, dia juga membuat alat ukur muka air yang dipasang di bantaran Citarum, hal itu untuk pengingat warga saat air Citarum tiba-tiba naik. “Alat ukur ini sederhana, terbuat dari sebatang bambu yang dicat dengan warna hijau, kuning dan merah sebagai tanda batas kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Dede menjelaskan, warna hijau menandakan Sungai Citarum sudah meluap dan mulai menyentuh bagian bawah tanggul, lalu warna kuning menandakan setengah dari badan tanggul telah terendam.
“Dan warna merah adalah waktu masyarakat untuk bersiapsiaga, serta mulai membuat pos pengawasan di tanggul untuk mengantisipasi adanya tanggul yang rembes,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua RT 06 RW 02 Dusun Puloharapan, Desa Kampungsawah Aji telah mengantisipasi apabila terjadinya angin kencang dengan membuat kincir angin, karena wilayah Desa Kampungsawah ini memiliki lahan pertanian yang lebih luas dibandingkan pemukimannya, serta tidak memiliki penghalang alami dalam mengurangi hembusan angin. Kata dia, kincir angin tersebut sebagai penanda jika terjadi angin kencang, sehingga masyarakat dapat lebih waspada. “Tidak jarang banyak rumah roboh atau pohon tumbang jika sudah masuk musim penghujan, terutama untuk rumah yang berada di pinggiran area pertanian seperti di RT saya,” imbuhnya.

Aji menjelaskan, kincir angin ini terbuat dari sebagian barang bekas, nantinya kincir ini akan mengeluarkan suara nyaring saat terjadi angin kencang. Oleh karenanya masyarakat bisa lebih waspada lagi ketika mendengar suara kincir angin tersebut. “Ketika terjadi hembusan angin di atas normal, suara yang dihasilkan kincir ini bisa terdengar sampai radius 100 meter dan sangat berisik,” kata Aji.

Sekretaris Desa Kampungsawah H Arif Munawir mengatakan, desa ini memiliki luas wilayah ±700 hektare dengan ketinggian lahan dari permukaan laut tidak lebih dari empat meter. Pihaknya menyebut setidaknya terdapat dua potensi bencana yang rentan terjadi di Kampungsawah, yaitu banjir dari luapan Sungai Citarum maupun genangan air saat hujan. Selain itu, angin kencang juga menjadi kekhawatiran warga Kampungsawah, terutama bagi rumahnya yang dekat dengan sawah. Oleh karenanya, sejumlah aparatur desa berinisiatif membuat alat kesiapsiagaan. “Potensi bencana yang dimiliki Desa Kampungsawah ini tidak lebih dari banjir dan angin kencang, karena ±80 persen luas wilayah ini adalah lahan pertanian maka hembusan angin kencang berpotensi membahayakan rumah warga,” katanya.

Arif menambahkan, di samping membuat alat peringatan dini untuk kesiapsiagaan bencana, aparatur Desa Kampungsawah juga melakukan pemeliharaan drainase, agar tidak terjadi banjir luapan di pemukiman. Pihaknya mengaku, para Ketua RT dibekali peralatan untuk membersihkan sampah yang menyumbat drainase, sedangkan Linmas dibekali alat-alat kedaruratan seperti tenda pengungsian dan APD (Alat Perlindungan Diri). “Hal ini dalam rangka memperkuat kesiapsiagaan Desa Kampungsawah dalam menghadapi musim penghujan ke depan,” katanya.

Camat Jayakerta Budiman Ahmad menyambut baik atas kreativitas aparat Desa Kampungsawah yang telah membuat alat deteksi dini, atau early morning bencana banjir. Kata Budiman, terdapat dua desa yang kerap terjadi banjir di wilayah Jayakarta, yaitu Desa Kampungsawah dan Medangasem. Sehingga dengan alat deteksi dini tersebut, masyarakat dapat mewaspadai jika ketinggian muka air Citarum meningkat. Budiman mengaku sementara ini pihak desa Kampungsawah belum memberitahu secara formal kepada pihak kecamatan, terkait pembuatan dan pemasangan alat deteksi dini itu. “Kami tetap berterima kasih terhadap kreativitas tersebut, mudah-mudahan mampu mengurangi kerugian yang ditimbulkan akibat banjir Citarum,” pungkasnya. (mra)