
KARAWANG, RAKA- Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa SMKN 2 Karawang ditemukan ulat. Temuan tersebut terdapat pada sayur sawi dan langsung ditindaklanjuti pihak sekolah dengan meminta siswa tidak mengonsumsi makanan tersebut.
Humas SMKN 2 Karawang Susi mengatakan, temuan itu diketahui setelah seorang siswa melaporkan adanya ulat pada bagian daun sayur yang diterimanya. Guru yang menerima laporan tersebut kemudian langsung melarang siswa memakan sayur tersebut.
“Saya tanyakan kejadiannya, ada seorang siswa melapor sayurnya di daunnya ada ulat. Saat melaporkan tadi pihak guru langsung melarang dimakan sayur tersebut,” katanya, Selasa (6/10).
Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan pengelola SPPG Karangpawitan 4 untuk menindaklanjuti temuan tersebut sekaligus meminta pengawasan kualitas atau quality control (QC) diperketat. “Pihak terkait dari sekolah langsung konfirmasi ke SPPG untuk meningkatkan QC-nya,” ujarnya.
Susi menyebut terdapat dua ompreng yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Makanan siswa kemudian langsung diganti dengan ompreng baru sehingga siswa tetap dapat mengikuti program MBG.
“Ada dua ompreng. Anak langsung ganti ompreng-nya dengan yang baru dan makan MBG seperti biasa,” ujarnya.
Sementara itu, pengelola SPPG Karangpawitan 4 melalui Asisten Lapangan (PIC) Nani, didampingi Kepala SPPG Burhanudin, membenarkan adanya ulat pada menu MBG yang dibagikan kepada siswa SMKN 2 Karawang.
“Kita sudah datang ke sekolah dan sudah menyelesaikannya. Ulat tersebut terdapat pada sayur sawi,” ujar Nani.
Sebagai langkah antisipasi, pihak SPPG untuk sementara akan mengganti menu sayur sawi. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah siswa mengalami trauma akibat kejadian tersebut. “Untuk mencegah trauma, sementara kita akan menggunakan menu sayur selain sawi,” katanya.
Nani menjelaskan, pihaknya telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan sayuran. Sayuran terlebih dahulu dicuci dan direndam menggunakan air garam, kemudian melalui hingga tiga tahapan sortir sebelum diolah. Pengawasan produksi juga disebut dilakukan langsung oleh Kepala SPPG. Menurut Nani, Kepala SPPG hadir melakukan pengawasan sejak pukul 02.00 hingga 04.00 WIB.
Namun, meski mengklaim telah menerapkan sejumlah tahapan pemeriksaan, ulat tetap ditemukan dalam makanan yang sudah sampai kepada siswa. Nani mengakui masih ada kemungkinan satu atau dua ulat lolos dari proses sortir.
“Kalau pada kenyataannya masih ada satu-dua, mungkin wajar ya. Karena memang sayuran kita justru tidak mengandung bahan-bahan berbahaya, tidak mengandung pestisida,” ujarnya.
Menurutnya, ulat yang ditemukan merupakan ulat sayuran. Ia menilai apabila hanya satu ulat yang lolos dalam proses pemeriksaan, hal tersebut masih dapat dimaklumi. “Jadi kalau ada ulat, itu ulat sayur. Menurut saya kalau cuma satu kelolosan, masih bisa dimaklumi,”tutupnya. (zal)



