Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Karawang
Trending

Pengelolaan Kampus Unsika Disorot: Kritik dan Harapan

KARAWANG, RAKA – Memasuki Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393, keberadaan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) kembali disorot. Perguruan tinggi negeri tersebut dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk tetap dekat dengan masyarakat Karawang yang sejak awal menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya kampus tersebut.

Dosen Unsika yang juga warga Karawang Sony Hersona mengatakan, Unsika pada awalnya lahir dari kebutuhan masyarakat Karawang. Pada masa itu, masyarakat Karawang yang ingin menempuh pendidikan tinggi harus pergi ke sejumlah kota seperti Bandung, Jakarta maupun Yogyakarta.

Menurutnya, kondisi ASN golongan 1 dan 2 pada saat itu tidak sanggup membiayai anak-anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga menjadi perhatian para tokoh masyarakat hingga akhirnya muncul gagasan mendirikan perguruan tinggi di Karawang yang kemudian direalisasikan pada masa pemerintahan Bupati Karawang Opon Sopandi.

“Unsika itu bagaimanapun awalnya adalah milik masyarakat Karawang. Unsika dilahirkan karena kebutuhan masyarakat Karawang pada zaman dahulu,” katanya, Senin (14/9).

Karena itu, ia mengingatkan para pemegang kebijakan di lingkungan Unsika agar tidak melupakan sejarah dan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan kampus tersebut.

“Jangan tidak perhatian sama masyarakat Karawang. Jangan datang ke Karawang cuma mau ngangkut saja. Ingat, Unsika itu harus dibangun,” tegasnya.

Sony menyoroti masih adanya lahan Unsika sekitar 30 hektare yang menurutnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia mendorong jajaran pimpinan Unsika lebih aktif membangun kerja sama dengan dunia industri yang ada di Karawang.

“Sekarang Unsika punya 30 hektare lahan yang belum dibangun maksimal. Jangan diam. Para pejabatnya, rektornya, para wakil rektornya harus berusaha. Ada ribuan pabrik di Karawang yang bisa diajak bekerja sama untuk membangun Unsika,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan kampus tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung, tetapi juga sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik. Mulai dari gedung perkuliahan, laboratorium, hingga fasilitas pendukung lainnya harus diperhatikan agar mahasiswa maupun dosen mendapatkan lingkungan belajar yang layak.

Selain infrastruktur, Sony juga menyoroti pengembangan sumber daya manusia di Unsika. Ia menilai para dosen yang memiliki potensi untuk menjadi profesor perlu mendapatkan dukungan dari pimpinan universitas.

“Unsika baru melahirkan beberapa profesor. Kenapa tidak disupport oleh pimpinan, diseleksi untuk dibantu agar mereka bisa menjadi guru besar semua?” katanya.

Sony juga mengkritik kurang optimalnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah pengembangan Unsika. Menurutnya, masyarakat Karawang perlu dilibatkan dalam memberikan masukan mengenai masa depan kampus tersebut.

“Tidak diajak ngobrol masyarakat tentang bagaimana Unsika menjadi terdepan. Ada beban moral yang harus menjadi kewajiban para pejabat Unsika hari ini,” ujarnya.

Ia turut menyoroti kondisi salah satu bangunan yang disebut sebagai bangunan kontainer di lingkungan Unsika. Menurut Sony, fasilitas tersebut dinilai tidak layak digunakan sebagai ruang pembelajaran karena kondisi yang panas dan persoalan keselamatan yang perlu diperhatikan.

“Bangunan itu tidak layak. Sudah panas, jangankan mahasiswa, dosennya pun tidak betah mengajar di situ. Kalau ada petir bagaimana? Penangkal petirnya juga harus diperhatikan. Konstruksi bangunan harus layak,” tegasnya.

Sony berharap, proses pemilihan rektor Unsika ke depan juga melibatkan aspirasi masyarakat Karawang. Menurutnya, posisi rektor dan wakil rektor sangat strategis sehingga harus diisi oleh figur yang profesional dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan daerah.

“Saya ngomong atas nama masyarakat Karawang, tetapi kebetulan saya juga lama di Unsika. Saya tahu persis Unsika dulu seperti apa dan Unsika hari ini seperti apa,” katanya.

Ia bahkan mengaku prihatin karena sejarah berdirinya Unsika dinilai belum banyak diangkat dalam berbagai momentum penting di kampus tersebut.

“Para pejabatnya tidak tahu sejarah Unsika. Bahkan saat ulang tahun Unsika, sejarah yang benar-benar real tentang Unsika dari awal tidak disampaikan. Saya geram dengan kondisi itu,” ujarnya.

Di sisi lain, Sony meminta Pemerintah Kabupaten Karawang dan DPRD turut mengambil peran dalam mendukung pengembangan Unsika. Terlebih, Unsika kini berstatus sebagai perguruan tinggi negeri yang berada di wilayah Kabupaten Karawang.

Menurutnya, dukungan pemerintah daerah dapat dilakukan melalui berbagai skema yang memungkinkan, termasuk mendorong aspirasi anggota DPRD Kabupaten Karawang maupun DPRD Jawa Barat untuk mendukung kebutuhan pembangunan kampus.

“Pemerintah daerah tidak tabu untuk membantu pengembangan Unsika. Sekarang Unsika sudah negeri dan berada di wilayah Karawang. Pemerintah daerah dan DPRD juga bisa ikut membantu,” katanya.

Ia mencontohkan, dukungan tersebut dapat diarahkan untuk kebutuhan infrastruktur seperti pagar, pintu masuk kampus, laboratorium, fasilitas Fakultas Teknik, maupun berbagai sarana pendukung pembelajaran.

“Tidak hanya laboratorium, tapi juga Fakultas Teknik, peralatannya dan lain sebagainya. Sekali lagi, saya berharap Unsika ke depan yang ada di Karawang dan memang memiliki masyarakat Karawang, kita punya kepedulian terhadap Unsika,” pungkasnya. (zal)

Related Articles

Back to top button