Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Purwakarta
Trending

Perpustakaan Pasanggrahan Rusak, 6.000 Buku ke Posyandu

PURWAKARTA, RAKA – Ribuan buku koleksi Perpustakaan Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kini tak lagi berada di satu tempat.

Lebih dari 6.000 eksemplar buku terpaksa dipindahkan ke sejumlah posyandu di setiap dusun setelah bangunan perpustakaan mengalami kerusakan parah akibat pergeseran tanah pada 1 Februari 2026.

Langkah tersebut dilakukan pengelola agar koleksi buku tetap dapat dimanfaatkan masyarakat meski gedung perpustakaan sudah tidak memungkinkan untuk digunakan.

Kepala Perpustakaan Desa Pasanggrahan sekaligus Pegiat Literasi Anak Desa, Romli Abdul Gopar, mengatakan kerusakan bangunan diperkirakan mencapai 75 persen.

Bangunan mengalami kemiringan, lantai terbelah, hingga sebagian plafon runtuh. Kondisi tersebut membuat pengelola memutuskan menghentikan seluruh kegiatan di dalam gedung demi keselamatan pengunjung.

“Sayang kalau buku hanya disimpan. Akhirnya kami bekerja sama dengan posyandu di setiap dusun. Buku-buku kami bagi supaya masyarakat tetap bisa membaca meski perpustakaan tidak bisa dipakai,” kata Romli, Jumat (7/8/2026).

Koleksi yang sebelumnya tersimpan di perpustakaan kini didistribusikan ke sejumlah posyandu.

Setiap posyandu digunakan sebagai pojok baca sederhana dengan sekitar 50 buku. Koleksinya disesuaikan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, terutama anak-anak dan pelajar.

Perpustakaan Desa Pasanggrahan saat ini memiliki lebih dari 6.000 buku. Koleksi tersebut terdiri atas buku pelajaran, cerita anak, pertanian, keterampilan, hingga buku pengembangan diri.

Sebagian besar buku diperoleh melalui bantuan Perpustakaan Nasional pada 2024. Koleksi lainnya berasal dari sumbangan masyarakat serta komunitas literasi.

Romli mengatakan perpindahan buku tersebut menjadi salah satu cara agar kegiatan membaca tidak sepenuhnya berhenti setelah gedung perpustakaan ditutup.

Namun, keberadaan pojok baca di posyandu belum sepenuhnya menggantikan fungsi perpustakaan.

Jumlah buku yang tersedia di setiap titik terbatas. Selain itu, lokasi posyandu yang tersebar di sejumlah dusun membuat masyarakat tidak lagi memiliki akses semudah sebelumnya untuk menikmati seluruh koleksi.

Sebelum bangunan rusak, Perpustakaan Desa Pasanggrahan menjadi salah satu tempat berkegiatan bagi anak-anak, terutama pada akhir pekan.

Setiap Sabtu dan Minggu, anak-anak biasa datang untuk membaca bersama, belajar, serta mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang digelar pengelola dan relawan.

Tidak hanya anak-anak, masyarakat umum juga memanfaatkan perpustakaan untuk mencari informasi. Sejumlah warga bahkan datang untuk membaca buku mengenai pertanian dan keterampilan.

“Anak-anak sekarang lebih banyak di rumah. Dulu setiap Sabtu dan Minggu mereka selalu berkegiatan di perpustakaan. Sekarang kembali lagi bermain gadget karena tidak ada aktivitas seperti dulu,” ujar Romli.

Menurutnya, perpustakaan juga sempat menjadi tempat persinggahan wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata di sekitar wilayah tersebut.

Kerusakan perpustakaan bermula setelah hujan deras mengguyur wilayah Pasanggrahan pada awal Februari 2026.

Awalnya, pengelola hanya menemukan sejumlah retakan pada bangunan. Namun, kondisi tersebut memburuk dalam waktu singkat.

Dalam tiga hari, pergeseran tanah semakin terlihat dan bagian tengah bangunan terdorong. Kondisi bangunan kemudian menjadi miring dan tidak stabil.

“Pagi-pagi saya kaget melihat bangunannya retak. Awalnya belum terlalu parah, tapi tiga hari kemudian kerusakannya semakin besar. Bagian tengah bangunan terdorong tanah sehingga sekarang kondisinya miring dan tidak stabil,” kata Romli.

Karena struktur bangunan dinilai berbahaya, perpustakaan akhirnya dikosongkan dan seluruh kegiatan dihentikan.

Perpustakaan Desa Pasanggrahan bukanlah fasilitas yang sejak awal dibangun sebagai milik pemerintah.

Tempat tersebut berawal dari gerakan masyarakat melalui Komunitas Literasi Anak Desa pada 2021. Seiring berkembangnya kegiatan dan kebutuhan untuk mengakses berbagai program bantuan, komunitas tersebut kemudian menggunakan nama Perpustakaan Desa.

Selama beberapa tahun, tempat tersebut berkembang menjadi ruang belajar dan literasi bagi masyarakat sekitar.

Kini, pengelola berharap ada solusi untuk menyelamatkan kembali fungsi perpustakaan tersebut.

Romli mengaku telah berkomunikasi dengan pemerintah desa dan sejumlah pihak yang sebelumnya memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Namun, proses perbaikan masih menghadapi kendala. Salah satunya berkaitan dengan status lahan yang bukan merupakan aset pemerintah. Di sisi lain, pengelola juga memiliki keterbatasan anggaran untuk melakukan pembangunan kembali.

“Kami sudah mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemberi CSR. Harapan kami sederhana, semoga ada solusi agar perpustakaan ini bisa diperbaiki. Kami ingin anak-anak kembali memiliki ruang belajar yang aman,” ungkapnya.

Romli berharap pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan di sekitar wilayah Purwakarta, serta pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan literasi dapat membantu mencarikan solusi.

Menurutnya, keberadaan perpustakaan semakin dibutuhkan, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan ruang belajar dan kegiatan positif di luar sekolah.

Hal tersebut dinilai semakin penting memasuki tahun ajaran baru, ketika banyak anak usia dini mulai belajar membaca.

“Kami ingin kembali berkontribusi untuk masyarakat, terutama anak-anak. Mudah-mudahan ada perhatian dari para pemangku kebijakan dan BUMN yang ada di sekitar agar perpustakaan ini bisa berdiri lagi dan kegiatan literasi kembali berjalan,” ujar Romli.

Untuk sementara, ribuan buku yang tersebar di posyandu menjadi cara pengelola mempertahankan gerakan literasi di tengah kondisi bangunan yang belum dapat digunakan.

Bagi pengelola, kerusakan gedung tidak boleh sekaligus menghentikan kebiasaan membaca yang telah dibangun selama bertahun-tahun. (yat)

Related Articles

Back to top button