
PURWAKARTA, RAKA – Komunitas Iket Sunda (KIS) Area Purwakarta (Arta) terus menjaga keberadaan iket Sunda dengan mengenalkannya kepada generasi muda. Sejak berdiri pada 30 Januari 2022, komunitas ini aktif mengedukasi masyarakat, termasuk anak-anak di Kabupaten Purwakarta.
Salah satu kegiatan rutin dilakukan setiap akhir pekan di Taman Surawisesa. Anak-anak diajak mengenal iket Sunda mulai dari kain yang digunakan, cara melipat hingga membentuknya menjadi iket yang dapat dikenakan.
Ketua KIS Arta, Agus Hidayatul Firdaus, mengatakan edukasi tersebut dilakukan agar generasi sekarang tidak kehilangan pengetahuan mengenai iket sebagai bagian dari warisan budaya Sunda.
“Poin pertama, ingin melestarikan. Supaya generasi sekarang juga bisa memakai iket dan tahu apa itu iket. Jadi supaya tidak terputus budaya dari leluhur kita, iket Sunda ini,” kata Agus, Minggu (4/10/2026).
Menurut Agus, kegiatan KIS Arta tidak hanya berlangsung di Taman Surawisesa. Komunitas tersebut juga kerap mendapat undangan dari sekolah maupun lembaga yang menggelar kegiatan ngiketan. Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya diajarkan cara memakai iket, tetapi juga dikenalkan dengan seni dan budaya Sunda yang menyertainya.
Agus yang sejak kecil merupakan praktisi pencak silat mengaku memiliki kedekatan dengan iket karena dalam tradisi pencak silat Sunda, iket juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Setelah bergabung dengan komunitas iket Sunda, ia semakin aktif melakukan edukasi.
KIS Arta juga mengenalkan bahwa iket Sunda memiliki beragam jenis. Secara umum, iket terbagi dalam kelompok buhun atau iket lama yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu, serta wanda kiwari atau kreasi baru yang berkembang seiring munculnya berbagai kreator iket.
Namun, keterbatasan waktu membuat tidak seluruh jenis iket dapat diperkenalkan kepada anak-anak. KIS Arta memilih mengenalkan bentuk-bentuk yang umum dan mudah dipahami terlebih dahulu.
Agus juga tidak menutup mata terhadap munculnya iket praktis di era sekarang. Menurutnya, bentuk praktis justru dapat menjadi pintu masuk agar masyarakat, terutama anak-anak, terbiasa menggunakan iket sebelum mengenal bentuk tradisional secara lebih mendalam.
Bagi KIS Arta, pengenalan tersebut penting karena iket bukan hanya bagian dari penampilan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan estetika. Modelnya dapat disesuaikan dengan karakter pemakai maupun kegiatan yang diikuti.
Agus berharap semakin banyak pihak ikut menjaga keberlangsungan iket Sunda. Ia juga berharap pemerintah daerah memberikan ruang dan dukungan lebih besar kepada komunitas budaya seperti KIS Arta untuk menjalankan kegiatan edukasi.
Selama ini, KIS Arta telah mendapat kesempatan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta untuk memperkenalkan iket. Namun, Agus berharap perhatian dari sektor kebudayaan juga dapat diberikan agar upaya pelestarian iket Sunda di Purwakarta semakin berkelanjutan.
“Iket tidak akan pernah hilang kalau kita mengenalkannya,” ujar Agus. (yat)



