
PURWAKARTA, RAKA – Tinggi muka air (TMA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, turun 16,81 meter dari elevasi tertingginya pada Juni 2026. Penyusutan air selama musim kemarau tersebut terlihat nyata di kawasan tanggul Ubrug, ketika hamparan tanah yang sebelumnya terendam kini terbuka dan dimanfaatkan warga untuk mencari rumput hingga bersantai bersama keluarga.
Berdasarkan keterangan Humas Perum Jasa Tirta II (PJT II), TMA Waduk Jatiluhur tercatat berada di elevasi 106,79 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 8 Juni 2026. Namun, berdasarkan data per 23 Oktober 2026, elevasinya turun menjadi 89,98 mdpl.
Artinya, dalam kurun waktu sekitar empat bulan, permukaan air waduk mengalami penurunan hingga 16,81 meter.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai ketersediaan air dan keamanan operasional Waduk Jatiluhur di tengah kemarau yang berlangsung cukup panjang. Meski demikian, penurunan elevasi tidak serta-merta menunjukkan waduk berada dalam kondisi tidak aman. Penilaiannya perlu mempertimbangkan volume air yang tersisa, kebutuhan penyaluran, perkiraan aliran masuk, serta pola pengoperasian waduk.
Dampak penyusutan air terlihat di kawasan tanggul Ubrug. Permukaan air terlihat menjauh dari bibir tanggul. Lahan yang sebelumnya terendam berubah menjadi hamparan tanah dan rumput hijau hingga ke bagian tengah waduk.
Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat terlihat melintas menuju area yang mengering. Sebagian warga memanfaatkan lahan tersebut untuk mencari rumput sebagai pakan ternak, sedangkan pengunjung lainnya datang untuk melihat langsung kondisi waduk yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Agus, salah seorang warga yang mencari rumput, mengatakan penyusutan air Waduk Jatiluhur sebenarnya sudah berlangsung sekitar empat bulan. Namun, kondisi yang memperlihatkan area daratan lebih luas baru terlihat dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini memang sedang surut. Kalau surut itu sudah mulai sejak empat bulan yang lalu, tetapi benar-benar sudah sampai ke bagian tengah itu baru beberapa waktu terakhir,” kata Agus.
Agus memanfaatkan rumput yang tumbuh di lahan bekas genangan untuk memenuhi kebutuhan pakan domba maupun sapi yang dipeliharanya.
Selain dimanfaatkan untuk mencari rumput, kawasan Ubrug juga menarik perhatian warga yang ingin melihat kondisi waduk secara langsung. Sebagian pengunjung datang bersama keluarga untuk bersantai, bahkan terdapat warung sederhana yang menjadi tempat singgah.
Wahyu, warga lainnya, mengaku sengaja datang setelah melihat foto dan informasi mengenai penyusutan Waduk Jatiluhur di media sosial.
“Saya ke sini karena lihat di medsos, pengen tahu benar atau enggak. Ternyata benar kondisinya seperti ini,” ujar Wahyu.
Ia datang bersama istri dan anaknya untuk melihat kondisi waduk sekaligus menghabiskan waktu luang. Namun, menurut dia, pemandangan waduk terlihat berbeda ketika permukaan air menyusut.
“Ke sini sama anak istri, sekalian buat nyantai. Kondisi seperti ini sebetulnya kelihatannya kurang estetik kalau kurang air. Sebelumnya belum pernah lihat sampai kering seperti ini,” katanya.
Mengacu pada data TMA per 23 Oktober 2026, elevasi Waduk Jatiluhur berada di angka 89,98 mdpl. Angka tersebut masih berada di atas batas bawah operasi waduk sebesar 87,50 mdpl yang pernah dijelaskan pihak PJT II pada September 2026.
Dengan demikian, posisi TMA pada 23 Oktober masih berjarak sekitar 2,48 meter dari batas bawah operasi tersebut. Namun, jarak elevasi ini tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan untuk menyimpulkan kondisi waduk sepenuhnya aman atau memastikan seluruh kebutuhan air akan terpenuhi. (yat)



