Kopi Kafe Harga Desa

PRODUK ASLI BUMDES SEJAHTERA: Kopi instan buatan BUMDes Sejahtera Desa Kalijati rasanya tidak kalah dengan kopi yang dijual di kafe.

JATISARI, RAKA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Desa Kalijati, Kecamatan Jatisari, membuat inovasi usaha dengan memproduksi kopi instan. Usaha belum lama dijalankan tepatnya pada awal September lalu. “Kenapa bikin ini, pertamanya karena setiap BUMDes harus ada inovasi baru. Akhirnya saya pikir karena saya suka kopi, daripada pergi ke yang lain mending bikin saja di BUMDes,” terang Direktur BUMDes Sejahtera Mira Agustina, Rabu (14/10).

Mira mengatakan, produk yang diberi merek Kopi Sejahtera ini sekelas dengan kopi ala kafe, namun dengan harga desa yang artinya relatif lebih murah. Kopi Sejahtera berupa kopi bubuk yang dikemas dalam sebuah kantung penyaring (drip bag) dalam kemasan cup maupun saset. Kopi ini juga dilengkapi gula pasir, gula aren, atau susu cair sesuai selera konsumen yang dikemas terpisah dari bubuk kopi. “Kopi Sejahtera juga tidak memiliki ampas dan konsumen bisa menakar sendiri gula atau susu sesuai dengan selera,” tuturnya.

Mira menuturkan, bahan baku Kopi Sejahtera merupakan asli Karawang yakni kopi Sanggabuana di Karawang Selatan. Mereka membelinya dari sesama BUMDes yakni di Desa Mekarbuana dalam bentuk biji kopi kering. Untuk varian premium BUMDes ini menggunakan kopi Temanggung yang juga dibeli dalam bentuk masih berupa biji kering. Proses penggilingan dan pengemasan dilakukan sendiri, tak terkecuali graminasi racikan punya pakem tersendiri hasil konsultasi dengan praktisi kopi.

Kopi Sejahtera dijual dengan harga mulai dari Rp5.000 sampai Rp10.000 yang dipasarkan di warung BUMDes ataupun secara online. Kopi ini telah melanglangbuana ke berbagai kota memanfaatkan jaringan sang direktur yang ternyata juga pecinta kopi.

Sampai saat ini baru 450 produk kopi yang dibuat dan hanya dikerjakan oleh pengurus BUMDes. Kedepannya dia berharap dapat memproduksi lebih banyak kopi dan dapat memberdayakan masyarakat sekitar untuk proses produksinya. “Kalau pasarnya memang bagus dan banyak yang suka saya lanjut, tapi Alhamdulillah ini berkepanjangan dan sampai saat ini masih produksi, cuma kendalanya kita harusnya punya tempat sendiri buat produksi agar lebih higenis,” paparnya.

Mengenai rasa, kopi ini dikatakan Mira cocok untuk mayarakat umum, karena rasa pahitnya yang tidak begitu pekat namun tetap mempertahankan rasa asli kopi tersebut. Ia mengklaim produknya dapat bertahan paling lama sampai 10 bulan. Dalam waktu dekat rencananya usaha ini akan dikelola secara profesional dengan mengurus izin PIRT dan mematenkan merek. “Kalau bisa sih kita punya kafe, cuma kita masih bingung tempatnya dimana,” pungkasnya. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *