Linmas Berharap Ada Tunjangan Pendidikan

Linmas Cikampek Utara, Daim

CIKAMPEK, RAKA – Tidak ada rotan akar pun jadi, jika tak dapat pekerjaan yang mentereng, pekerjaan biasa pun asal dinikmati dan untuk kebaikan akan terasa lebih nyaman dan berkah.

Misalnya, peran seorang linmas tidak bisa dianggap enteng, karena bertanggung jawab langsung mengenai keamanan desa. Namun honor yang didapat tidak sebanding dengan tugas yang dilaksanakan.

Daim (57), komandan Regu Linmas Desa Cikampek Pusaka mengatakan, tugas sebagai polisi desa memang tidak mudah, karana bertanggung jawab langsung mengenai keamanan desa. Meski demikian, karena tidak ada pekerjaan lain, dia tetap menikamati profesi tersebut. “Sudah sepuluh tahun jadi linmas. Walapun gajinya gak seberapa, tetap dijalani aja. Karena peran linmas juga bisa bermanfaat untuk banyak orang, dengan membantu dalam menciptkan keamanan dan kenyamanan masyarakat,” ujarnya kepada Radar Karawang, beberapa waktu lalu.

Ia mengaku, setiap per enam bulan sekali mendapatkan honor sebesar Rp900 ribu dari anggaran dana bagi hasil dan setiap tiga bulan sekali mendapatkan honor sebesar Rp450 ribu dari alokasi dana desa, serta setiap satu bulan sekali sebesar Rp275 ribu. “Untuk sekarang gaji sudah naik, berbeda dengan tahun sebelumnya. Tapi jika dari tugas yang dilakukan, gajinya masih kurang. Kadang saya cari kerja sampingan, kadang ikut kerja di proyek dan lain-lain. Apa aja yang bisa dikerjakan untuk menambah penghasilan, menafkahi anak dan istri,” akunya.

Lelaki yang mempunyai empat anak dan lima cucu ini menambahkan, tentu ingin sekali jika diangkat menjadi PNS. Sebab, bisa mendapatkan gaji yang cukup. Jika bisa, dia berharap seharusnya linmas juga diberikan tunjangan untuk pendidikan anaknya. “Buat meringankan beban harusnya linmas dikasih tunjangan juga, kalau sekolah gratisan kita jadi merasa diperhatikan oleh pemerintah,” pungkasnya.

Sebelum ada wabah virus corona, dia sering mendapatkan uang sampingan untuk pengamanan dan berjaga di tempat hajatan. Namun, sekarang tidak ada karena tidak boleh melakukan hajatan. “Kalau setiap mengamankan hajatan, baik pernikahan atau khitanan kadang suka dikasih sama yang punya hajat. Ada yang seratus sampai dua ratus ribu. Sekarang mah gak ada. BLT juga gak dapat, padahal kita juga mau dapat bantuan. Tahu sendiri kondisi linmas juga sama tidak berkecukupan,” pungkasnya. (psn)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *