Merusak Paru-paru Sejak Remaja

KOTABARU, RAKA – Ngumpul di warung, nongkrong sambil merokok. Begitulah gaya anak sekolah zaman sekarang. Jika kita cermati, hampir di setiap warung selalu ada pelajar yang tengah santai sambil menghisap rokoknya.

Bahkan, hal itu seperti menjadi rutinitas di kalangan pelajar setiap hendak berangkat, istirahat atau sepulang dari sekolah. Padahal, pemandangan demikian sangat tidak baik, dan tak sedikit yang merasa risih dengan hal itu. Namun, dibalik perilaku pelajar yang tidak baik itu, keuntungan justru didapatkan oleh si pemilik warung.

Seperti diungkapkan oleh Ompong (37), seorang pemilik warung yang berada di dekat kantor Desa Wancimekar. Setiap hari, warungnya selalu dipenuhi oleh pelajar SMK yang nongkrong sambil merokok. Dia tidak menampik jika dirinya mendapatkan keuntungan dari banyaknya pelajar yang nongkrong di warungnya. “Ya lumayan sih emang. Tapi gak gede juga. Belinya juga kan paling tiga ribu. Sehari sama anak sekolah saja abis lima bungkusan,” katanya kepada Radar Karawang.

Dikatakan Ompong, keuntungan yang diperoleh dari penjualan rokok sebenarnya tidak seberapa. Tapi keuntungan yang dia dapatkan ialah dari jajanan lain, seperti minuman dan makanan yang dijual di warungnya. Untuk itu, dia sengaja menjual beberapa merk rokok yang biasa dibeli oleh pelajar dengan cara diecer. “Dapat untungnya dari ini (cemilan) dan minuman-minuman dingin. Kalau rokok mah itung-itung bantu larisin jajanan aja. Makanya rokok diketeng,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jadwal banyaknya pelajar yang nongkrong di warungnya yaitu pada saat berangkat sekolah, istirahat dan setelah pelajar pulang sekolah. “Pagi biasanya banyak. Sebelum masuk ke sekolah itu mampir dulu pada jajan sambil ngerokok,” katanya.

Sementara, TS (15) seorang pelajar kelas IX SMP yang sedang membeli rokok di warung tersebut, mengaku sudah biasa membeli rokok dan menghisapnya di warung sambil jajan. “Sudah tahu orangtua juga. Dibolehin asal jangan kebanyakan aja ngerokok nya,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Nagasari dr Niken Rosiana mengatakan, anggota keluarga tidak merokok menjadi salah satu indikator keluarga sehat. Namun nampaknya kebiasaan merokok ini masih sulit dihilangkan. Bahkan untuk tidak merokok di dalam rumah saja, nampaknya banyak masyarakat yang masih mengabaikan. “Ada satu saja yang merokok, keluarga sehat gagal, yang merokoknya di dalam ruangan,” ucapnya. (nce)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *