Karawang
Trending

Ribuan Ikan Mati Mendadak di Karawang, DLH: Masih Tunggu Hasil Uji Lab 14 Hari

KARAWANG, RAKA – Komisi III DPRD Kabupaten Karawang meminta masyarakat bersabar menunggu hasil uji laboratorium terkait kasus kematian massal ikan yang terjadi di aliran irigasi Citarum. Pasalnya, hingga saat ini penyebab pasti matinya ribuan ikan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang.‎

‎Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Karawang Erick Heryawan mengatakan, pihaknya melakukan kunjungan kerja ke DLH untuk meminta penjelasan mengenai peristiwa yang menjadi sorotan masyarakat tersebut.

‎“Kami dari Komisi III melaksanakan kunjungan ke Dinas Lingkungan Hidup terkait isu yang tengah menjadi sorotan masyarakat, yakni kematian ikan massal di aliran irigasi Citarum. Bagi kami ini bukan sekadar bencana ekologi, tetapi dampak yang ditimbulkannya juga sangat merugikan masyarakat,”katanya, Rabu (3/6).

‎‎Erick menjelaskan, berdasarkan hasil komunikasi dengan DLH, instansi tersebut telah bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi bersama Satgas Citarum Harum untuk melakukan verifikasi lapangan. Selain melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai, petugas juga mengambil sampel air yang saat ini tengah diuji di laboratorium.

‎“DLH kemarin sudah turun langsung ke lokasi bersama Satgas Citarum Harum untuk melakukan verifikasi lapangan dan mengambil sampel air. Saat ini sampel tersebut sedang diuji di laboratorium. Namun memang prosesnya membutuhkan waktu sekitar 14 hari hingga hasilnya keluar,”terangnya.

‎‎Menurutnya, hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab utama kematian massal ikan tersebut, sehingga sumber pencemaran dapat ditelusuri secara lebih akurat.

‎“Dari hasil laboratorium nanti kita akan memiliki data yang jelas mengenai apa yang menyebabkan keracunan massal tersebut dan faktor apa yang paling dominan. Mudah-mudahan penyebabnya bisa segera diketahui,” ungkapnya.

‎‎Terkait dugaan sementara penyebab kematian ikan, Erick mengaku tidak ingin berspekulasi sebelum hasil laboratorium keluar. Namun ia menilai kematian ikan sapu-sapu yang dikenal memiliki daya tahan tinggi menjadi indikasi adanya gangguan serius pada kualitas air. ‎

“Kalau saya hanya berprasangka saja, bukan ahli lingkungan. Tetapi mengingat ikan sapu-sapu yang terkenal kuat saja ikut mati, bisa jadi kadar oksigen di dalam air sangat rendah. Namun penyebab pastinya tetap harus menunggu hasil uji laboratorium,”ujarnya.‎

‎Erick juga mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati di lokasi kejadian karena dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan.

‎“Sebaiknya jangan dikonsumsi karena kita tidak tahu zat apa yang menyebabkan ikan-ikan itu mati. Jangan sampai kesehatan masyarakat menjadi taruhannya,” tegasnya.

‎Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan DLH Kabupaten Karawang Lucky Mantera Dwi Putra Romly, mengatakan kedatangan Komisi III merupakan bentuk dukungan terhadap upaya DLH dalam mengungkap penyebab kematian ikan di irigasi tersebut. ‎

“Kami telah melakukan verifikasi lapangan dan mengambil sampel air. Sampai saat ini kami belum bisa memastikan sumber penyebabnya karena banyak indikator yang harus diteliti,”paparnya.

‎‎Lucky menjelaskan, salah satu kemungkinan rendahnya kadar oksigen terlarut di dalam air. Namun, terdapat berbagai faktor lain yang juga berpotensi menyebabkan kematian ikan sehingga diperlukan hasil laboratorium untuk memastikan penyebabnya. ‎

“Bisa saja karena oksigen yang terlalu rendah, bisa juga ada faktor lain. Tetapi kami belum bisa menduga lebih jauh karena hasil laboratorium akan menjadi gerbang pembuka untuk mengetahui indikasi penyebab sebenarnya. Saat ini kami masih menunggu hasilnya dan keluar dalam waktu 14 hari,” tutupnya. (zal)

Related Articles

Back to top button