
JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, secara resmi mengimbau jemaah umrah asal Indonesia untuk memprioritaskan penggunaan penerbangan langsung (direct flight) menuju Arab Saudi. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga keamanan perjalanan sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi nasional melalui optimalisasi maskapai domestik.
Dalam keterangannya, Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan pentingnya memilih rute langsung ke Jeddah atau Madinah daripada menggunakan penerbangan transit melalui negara lain, khususnya Singapura dan Malaysia. Hal ini berkaitan dengan dinamika situasi di kawasan Timur Tengah, meskipun kondisi di Arab Saudi saat ini dipastikan tetap kondusif bagi para jemaah.
“Terkait kondisi eskalasi Timur Tengah, Saudi baik-baik saja dalam konteks peribadatan umrah. Kemenlu juga sama, baik-baik saja. Sampai detik ini kegiatan umrah berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Wamenhaj.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pemilihan maskapai penerbangan langsung memiliki kaitan erat dengan faktor keselamatan dan efisiensi koordinasi. Beliau menegaskan, “Kami sebagai pihak yang mengelola haji dan umrah mengimbau jemaah memilih maskapai direct, bukan penerbangan transit. Lebih aman bisa direct ke Jeddah atau Madinah. Jadi kami sarankan itu.”
Sebagai tindak lanjut dari kebijakan ini, Kementerian Haji dan Umrah telah melakukan koordinasi dengan berbagai asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Para pelaku usaha travel diminta untuk meninjau kembali rute penerbangan yang ditawarkan kepada jemaah.
“Kami kumpulkan asosiasi PPIU untuk menjadi perhatian kepada pelaku bisnis travel. Kami minta kepada asosiasi jangan dulu memilih penerbangan transit seperti ke Malaysia atau Singapura,” ujar Wamenhaj.
Selain aspek keamanan, imbauan ini didasari oleh data yang menunjukkan tingginya jumlah jemaah Indonesia yang menggunakan rute transit, yakni mencapai sekitar 70 ribu orang. Potensi ini dinilai sangat besar untuk mendukung industri penerbangan dalam negeri jika dialihkan ke maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air.
“Jemaah yang transit di Malaysia dan Singapura cukup besar, 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional juga membantu ekonomi nasional kita. Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda,” pungkas Dahnil Anzar Simanjuntak.



