Ubah Jelantah Jadi Lilin, Program Green Innovation Karawang Latih UMKM Kriya & Kuliner

KARAWANG, RAKA- Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kabupaten Karawang meluncurkan program Green Innovation sebagai upaya mendorong transformasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju ekonomi sirkuler.
Kepala Bidang Pemberdayaan, Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah DPPKUKM Karawang Leoni mengatakan, bahwa program tersebut merupakan bagian dari inovasi kegiatan di bidang Pemberdayaan dan Pengembangan UKM.
Program ini juga selaras dengan prioritas pembangunan Provinsi Jawa Barat tahun 2027 yang menitikberatkan pada penguatan ekonomi sirkuler di kalangan UMKM.
“Melalui program Green Innovation, kami mendorong transformasi UMKM di Karawang menuju ekonomi sirkuler melalui konsep UMKM Go Green Transformation,”katanya, Selasa (28/4).
Pada tahap awal, sambungnya, program ini menyasar 60 UMKM sebagai proyek percontohan, terdiri dari 30 UMKM sektor kriya dan 30 UMKM sektor kuliner. Kegiatan ini bertujuan mengubah pola pikir pelaku UMKM dari sistem konvensional menuju praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.
Diteruskannya juga, perubahan tersebut mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga distribusi. Salah satu fokus utama adalah pengurangan penggunaan plastik dan peralihan ke kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Diungkapkannya, khusus untuk UMKM kuliner, peserta diarahkan untuk mengelola limbah rumah tangga hasil produksi. Upaya ini ditujukan untuk mewujudkan konsep zero waste kitchen atau dapur minim sampah.
Sementara itu, bagi UMKM kriya, program ini menghadirkan pelatihan pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomis. Di antaranya pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin beraroma serta pengolahan limbah kain perca menjadi produk kreatif bernilai jual.
“Harapannya, limbah yang dihasilkan baik dari rumah tangga maupun aktivitas usaha dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,”paparnya.
Menurutnya, pelaksanaan program dilakukan dalam dua angkatan dengan masing-masing sesi berlangsung selama tiga hari. Hari pertama difokuskan pada peningkatan pengetahuan terkait ekonomi sirkuler dan konsep 3R (reduce, reuse, recycle), sementara dua hari berikutnya diisi dengan praktik langsung pengolahan limbah.
Selain itu, tantangan pengurangan plastik, khususnya pada kemasan minuman, juga menjadi perhatian. Menurut Leoni, penggunaan plastik pada sektor tersebut masih cukup tinggi dan belum sepenuhnya tergantikan oleh alternatif lain yang terjangkau.
Sebagai solusi sementara, kata Leoni, pihaknya mendorong perubahan perilaku konsumen dengan membawa wadah sendiri, seperti tumbler, saat membeli minuman.
“Alternatif yang paling memungkinkan saat ini adalah mengedukasi konsumen agar membawa tumbler dari rumah. Ini menjadi langkah awal untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,”tutupnya. (zal)



