Purwakarta
Trending

Waduk Jatiluhur Terapkan Gilir-giring, Air Irigasi Aman!

PURWAKARTA, RAKA – Pengelolaan distribusi air di Waduk Jatiluhur terus diperketat memasuki puncak musim kemarau 2026. Salah satu langkah yang diterapkan adalah sistem gilir-giring, yakni pembagian air irigasi secara bergiliran agar pasokan tetap merata meski debit air mengalami penurunan.

Langkah tersebut dilakukan seiring menyusutnya permukaan air Waduk Jatiluhur akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, industri hingga pembangkit listrik dipastikan masih dalam kondisi aman.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II (PJT II), Imam Santoso, mengatakan pengelolaan sumber daya air selama musim kemarau harus dilakukan secara adaptif agar seluruh kebutuhan pengguna air tetap terpenuhi.

“Musim kemarau membutuhkan pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan terintegrasi. Melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, kami berupaya menjaga ketersediaan air di DAS Citarum agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, irigasi, industri, serta sektor strategis lainnya,” ujar Imam dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan data pengelola, tinggi muka air Waduk Jatiluhur mengalami penurunan dari elevasi 106,79 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 8 Juni 2026 menjadi 99,37 mdpl per 5 Agustus 2026. Dalam waktu 58 hari, permukaan air turun sekitar 7,42 meter.

Meski mengalami penyusutan, volume efektif waduk masih mencapai 857,10 juta meter kubik. Dengan pola operasi yang telah disiapkan, ketersediaan air hingga akhir Desember 2026 diproyeksikan masih mencapai sekitar 1,037 miliar meter kubik, sehingga dinilai cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama musim kemarau.

Direktur Operasi dan Pemeliharaan PJT II, Anton Mardiyono, mengatakan sistem gilir-giring diterapkan berdasarkan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) agar distribusi air ke daerah irigasi berlangsung lebih efektif dan merata.

“Musim kemarau menuntut pengelolaan air yang semakin cermat. Melalui sistem gilir-giring dan pengaturan penyaluran sesuai Rencana Tata Tanam Global, kami berupaya memastikan kebutuhan pertanian maupun sektor lainnya tetap terpenuhi,” kata Anton.

Selain mengatur distribusi air, pengelola Waduk Jatiluhur juga melakukan berbagai langkah antisipasi lainnya. Bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, PT PLN Indonesia Power UBP Saguling, serta PT PLN Nusantara Power UP Cirata, dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 30 Juli 2026.

Program tersebut bertujuan meningkatkan debit air yang masuk ke Waduk Kaskade Citarum sehingga volume tampungan tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.

Di sisi lain, surutnya permukaan Waduk Jatiluhur juga dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam. Hamparan dasar waduk yang mengering di kawasan Tanggul Ubrug, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, kini ditanami kacang tanah, singkong, jagung, dan berbagai tanaman palawija lainnya.

Salah seorang warga, Oji, mengatakan aktivitas tersebut telah menjadi kebiasaan masyarakat setiap musim kemarau.

“Kalau air surut, lahan yang muncul langsung kami tanami. Sudah dua tahun terakhir saya berkebun di sini. Hasilnya sebagian dijual dan sebagian lagi untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Meski demikian, warga menyadari lahan tersebut hanya dapat dimanfaatkan sementara. Saat musim hujan tiba dan permukaan air Waduk Jatiluhur kembali naik, seluruh lahan pertanian akan kembali terendam. (yat)

Related Articles

Back to top button