
PURWAKARTA, RAKA – Menyusutnya permukaan air Waduk Jatiluhur selama musim kemarau dimanfaatkan warga di sekitar waduk untuk bercocok tanam. Lahan yang sebelumnya terendam air kini berubah menjadi kebun palawija yang ditanami kacang tanah, singkong, jagung, hingga berbagai jenis umbi-umbian.
Pemandangan tersebut terlihat di kawasan Tanggul Ubrug, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Rabu (5/8/2026). Surutnya air waduk membuka hamparan tanah yang cukup luas, sehingga dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian sementara hingga musim hujan tiba.
Bagi warga sekitar, aktivitas tersebut sudah menjadi tradisi setiap musim kemarau. Saat air menyusut, lahan yang muncul langsung diolah dan ditanami berbagai komoditas palawija untuk menambah penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah seorang warga, Oji, mengatakan dirinya telah menggarap lahan dasar waduk selama dua tahun terakhir. Menurutnya, tanah bekas genangan air memiliki tingkat kesuburan yang baik sehingga cocok untuk ditanami.
“Kalau air surut kami langsung berkebun. Sudah dua tahun seperti ini. Kalau musim hujan datang dan air naik, lahannya kembali terendam,” kata Oji, Rabu (5/8/2026).
Ia mengaku menggarap lahan sekitar 800 meter persegi bersama beberapa warga lainnya. Dalam satu musim kemarau, lahan tersebut bisa menghasilkan panen kacang tanah hingga dua kali karena masa tanamnya hanya sekitar tiga bulan.
“Hasil panennya lumayan. Ada yang dijual, ada juga yang dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Meski memberikan manfaat, Oji menyebut aktivitas berkebun di dasar waduk juga memiliki risiko. Jika hujan turun lebih cepat dari perkiraan, tanaman yang belum dipanen bisa terendam kembali.
“Pernah tanam turubuk, tapi belum sempat dipanen sudah keburu banjir. Jadi memang harus menyesuaikan dengan kondisi air waduk,” tuturnya.
Sementara itu, Perum Jasa Tirta (PJT) II mencatat permukaan air Waduk Jatiluhur mengalami penurunan sekitar 7,42 meter dalam kurun 58 hari, dari elevasi 106,79 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 8 Juni 2026 menjadi 99,37 mdpl per 5 Agustus 2026.
Meski demikian, PJT II memastikan kondisi waduk masih aman. Volume efektif waduk saat ini mencapai 857,10 juta meter kubik dan diperkirakan masih mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat, irigasi, industri, hingga pembangkit listrik sampai akhir tahun melalui pengelolaan sumber daya air yang optimal. (yat)



