PURWAKARTA, RAKA – Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Purwakarta memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk menyuarakan kritik terhadap berbagai persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Mereka menilai pemulihan ekologis tidak cukup melalui seruan moral dan seremoni tahunan, melainkan harus ada langkah konkret dalam memperbaiki tata kelola lingkungan dan menghentikan praktik eksploitasi ruang hidup.
Dalam aksi damai di Taman Pembaharuan, MAPALA Purwakarta menyoroti berbagai persoalan mulai dari krisis iklim, pencemaran lingkungan, alih fungsi lahan, hingga ancaman mikroplastik yang kini mulai berdampak terhadap kesehatan manusia.
Baca Juga: Gelar OSN Tingkat Kabupaten, Dua SDN di Purwakarta Jadi Pusat Kompetisi Sains Digital
Menyikapi tema pemulihan ekologis dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, mereka menilai berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia bukan hanya oleh perilaku masyarakat, tetapi juga lemahnya tata kelola ruang, pengawasan industri, dan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan.
“Yang dibutuhkan hari ini adalah konsistensi, transparansi, dan keberanian politik untuk menghentikan eksploitasi ruang hidup demi kepentingan segelintir kelompok,” ujar salah satu poin yang tertulis dalam pernyataan resmi MAPALA Purwakarta.
MAPALA Purwakarta berpandangan bahwa tanggung jawab ekologis tidak boleh terus dibebankan kepada masyarakat melalui imbauan moral semata. Mereka mendesak negara, dunia usaha, dan para pemegang regulasi untuk mengambil peran utama dalam mewujudkan pemulihan lingkungan yang nyata dan berkelanjutan.
Selain menyuarakan kritik terhadap kebijakan lingkungan, MAPALA Purwakarta juga mengangkat isu bahaya mikroplastik yang berasal dari industri sandang dan tren fast fashion.
Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa sebagian besar produk fast fashion menggunakan bahan sintetis seperti poliester yang merupakan turunan plastik. Setiap kali dicuci, material tersebut melepaskan jutaan serat mikroplastik yang kemudian mencemari lingkungan dan berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia.
“Partikel mikroplastik ini diam-diam telah masuk ke dalam tubuh manusia, mendiami organ vital, aliran darah, bahkan terdeteksi di sperma hingga Air Susu Ibu (ASI) yang memicu berbagai risiko penyakit kronis seperti kanker,” ungkap poin lainnya.
Peserta diskusi juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap kapas impor yang dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat dominasi tekstil sintetis di pasar domestik.
Sebelum menggelar diskusi publik, MAPALA Purwakarta terlebih dahulu melakukan longmarch menuju Taman Pembaharuan.
Tonton Juga: EKSKUL UNIK TAPI JUARA! RAHASIA SMK LENTERA BANGSA DI OLAHRAGA TEROMPAH
Sepanjang perjalanan, massa membawa sejumlah poster berisi kritik terhadap krisis iklim, pencemaran lingkungan, persoalan sampah, dan alih fungsi lahan. Mereka juga melakukan aksi clean-up dengan memungut sampah plastik di sepanjang rute yang dilalui.
Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan sekaligus ajakan kepada masyarakat agar tidak hanya berhenti pada wacana pelestarian alam.
“Bumi butuh keadilan, bukan sekadar perayaan. Bicara itu mudah, merawat itu amanah! Selamatkan lingkungan dengan tindakan!,” tegas MAPALA Purwakarta.
Setibanya di Taman Pembaharuan, peserta aksi menggelar orasi dan penyampaian aspirasi. Berbagai isu lingkungan dibahas, mulai dari dampak perubahan iklim, kepunahan keanekaragaman hayati, alih fungsi lahan hijau, darurat pengelolaan sampah, hingga ancaman krisis air bersih.
Melalui aksi dan diskusi tersebut, MAPALA Purwakarta mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Mereka menginginkan pembenahan tata kelola industri sandang, pengurangan dominasi tekstil berbahan plastik, serta dukungan terhadap pengembangan serat alami lokal.
Di sisi lain, masyarakat harus mulai mengurangi pola konsumsi fast fashion, memperpanjang usia pakai pakaian, dan memilih produk yang lebih ramah lingkungan. (yat)



