
PURWAKARTA, RAKA – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Lahan kering dan ilalang menjadi salah satu titik yang paling rentan terbakar, terutama ketika cuaca panas disertai aktivitas warga yang berpotensi memunculkan sumber api.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Purwakarta mencatat sebanyak 147 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, 75 kejadian atau lebih dari separuhnya terjadi hanya dalam satu bulan, yakni Juli 2026.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Purwakarta, Juddy Herdiana, mengatakan sebagian besar kebakaran pada Juli terjadi pada objek berupa ilalang.
“Dari 147 kejadian kebakaran ini ternyata setelah kita data, 75 kejadian kebakaran itu terjadi di bulan Juli, dengan objek ilalang,” kata Juddy, Kamis (27/8/2026).
Tingginya kebakaran ilalang dinilai berkaitan erat dengan kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau. Rumput dan ilalang yang kehilangan kadar air menjadi material yang mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Kondisi tersebut diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam beberapa pekan ke depan. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September.
“Prediksi dari BMKG bahwa kemarau itu akan terjadi sampai dengan akhir bulan September. Dimulai dengan kemarau akhir Juni, Juli dan sekarang Agustus. Mudah-mudahan sesuai prediksi, kemarau itu akan berakhir di akhir September,” ujar Juddy.
Selain faktor cuaca, Damkar Purwakarta menemukan potensi kebakaran yang bersumber dari aktivitas manusia.
Puntung rokok yang dibuang sembarangan menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika berada di sekitar rerumputan atau ilalang yang kondisinya kering.
Pembakaran sampah tanpa pengawasan juga berisiko membuat api merembet ke area lain. Terlebih jika lokasi pembakaran berada dekat lahan kosong yang dipenuhi rumput kering.
“Kelalaian dari manusia yang kita prediksi mungkin membuang puntung rokok sembarangan, kemudian membakar sampah tanpa diawasi,” kata Juddy.
Ia juga mengingatkan adanya kemungkinan sumber api dari benda-benda tertentu yang berada di lahan terbuka.
Gesekan bambu serta keberadaan botol atau pecahan kaca di tengah lahan kering disebut memiliki potensi memicu munculnya api dalam kondisi tertentu.
“Memang ada potensi dari gesekan bambu, atau mungkin ada botol-botol atau kaca yang kebetulan membuat efek kaca pembesar atau surya kanta sehingga menimbulkan api,” ucapnya.
Meski jumlah kejadian kebakaran tergolong tinggi, Damkar Purwakarta menyebut hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat rangkaian kebakaran tersebut.
“Korban jiwa tidak ada, alhamdulillah. Korban luka sampai hari ini kita belum menerima laporan terkait dengan kejadian,” ujar Juddy.
Kewaspadaan terhadap kebakaran juga menjadi semakin penting setelah kebakaran besar sebelumnya melanda PT Iluva Gravure Industri di Desa Cipopo, Kecamatan Bungursari, Purwakarta.
Peristiwa tersebut menghanguskan area pabrik, termasuk ruang produksi dan material kemasan plastik. Petugas pemadam harus melakukan proses pemadaman hingga pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api.
Pantauan udara menggunakan kamera drone pada Selasa (18/8/2026) pagi menunjukkan petugas Damkar Purwakarta masih melakukan proses pendinginan di area industri tersebut setelah kebakaran.
Menghadapi sisa periode kemarau, Damkar Purwakarta meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sekitar lahan kosong, perkebunan, permukiman, dan kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
Juddy mengimbau masyarakat tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun.
“Kami dari Dinas Pemadam Kebakaran Purwakarta mengimbau kepada masyarakat umumnya di wilayah Kabupaten Purwakarta untuk meningkatkan kesadaran terhadap potensi bahaya kebakaran di lingkungan,” katanya.
Ia secara khusus meminta perokok memastikan puntung rokok dibuang pada tempat yang aman dan tidak langsung ke tanah atau rerumputan.
“Paling tidak buang di tempat yang sudah disediakan. Jangan dibuang sembarangan karena puntung rokok itu menjadi potensi penyebab kebakaran ilalang terutama,” ujarnya.
Sementara itu, warga yang masih harus membakar sampah diminta tidak meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam.
“Kepada masyarakat yang memang terpaksa harus membakar sampahnya agar tetap diawasi, dijaga sampai dengan sampahnya itu dipastikan mati,” pungkas Juddy.
Dengan kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September, masyarakat Purwakarta diingatkan untuk lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama di tengah kondisi lahan yang semakin kering. (yat)



