HEADLINE
Trending

Ramadan di Tengah Banjir: Ratusan Rumah di Desa Karangligar Telukjambe Barat Terendam

KARAWANG,RAKA- Memasuki bulan Ramadan, ribuan orang di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat harus menjalani ibadah puasa di tengah banjir. Ratusan rumah terendam dengan ketinggian 70 sentimeter hingga 2 meter.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ) Karawang Usep Supriatna mengatakan, banjir juga sudah merendam sebanyak 596 rumah warga Karangligar.

“Banjir belum surut malah bertambah titik banjirnya. Kami terus melakukan pemantauan perkembangan banjir. Kami juga harus memastikan kebutuhan warga korban banjir harus terpenuhi dari soal makanan hingga kebutuhan lainnya,” katanya, pada wartawan, Sabtu (21/2).

Baca Juga : Diduga ODGJ, Pria di Kotabaru Karawang Bacok Tiga Warga Secara Brutal

Saat ini, lanjutnya, potensi hujan masih tinggi hingga akhir Februari. Untuk itu, warga Karawang yang wilayahnya suka kebanjiran agar selalu waspada. Petugas BPBD akan selalu siaga di wilayah rawan banjir hingga musim hujan selesai.

“Sampai bulan Februari kami masih siaga karena hujan masih turun. Setelah itu mungkin tugas kami untuk selalu siaga sudah selesai,” paparnya.

Ketinggian air di Desa Karangligar, tambahnya, antara 70 cm hingga 2 m di sejumlah wilayah banjir. Air hujan yang tadinya diharapkan lekas surut malah bertambah tinggi.

“Air hujan bertambah tinggi setiap harinya. Kami juga menambah anggota karena wilayah banjir makin meluas,” katanya.

Akibat air bertambah tinggi akhir sejumlah warga mulai melakukan pengungsian yang disediakan pemerintah seperti kantor desa dan rumah ibadah. Namun ada juga warga yang memilih mengungsi ke rumah warga dipinggir jalan.

“Iya sudah ada yang mulai mengungsi namun kami masih melakukan pendataan lagi,” paparnya.
Tingginya air yang merendam, membuat sejumlah warga masih bertahan di tempat pengungsian dengan fasilitas seadanya.

EPAPER RADAR KARAWANG – UPDATE SETIAP HARI

”Sudah empat hari rumah kami digenangi banjir. Sejak hari kedua puasa, banjir dari luapan Sungai Cibeet kembali menerjang Dusun kami,” ujar Agus Tohaeri, warga Dusun Pangasinan.

Dia mengaku masih bertahan di tempat pengungsian ka­rena rumahnya masih terendam air. Untuk keperluan makan sahur dan ber­buka puasa, Agus mengandalkan pemberian dari para donatur.

Kondisi Agus tidak jauh berbeda dengan warga terdampak lainnya, di antaranya, Agus. Ia sedikit beruntung karena mengungsi di rumah saudaranya yang letaknya dekat Stasiun Kereta Cepat Whoosh. ”Kendati belum bisa pulang ke rumah, Alhamdulillah kebutuhan buka puasa dan sahur disediakan oleh saudara,” ujarnya.

Agus berharap, banjir yang merendam rumahnya segera surut. Dia merasa tidak enak jika terus-menerus mengandalkan kebaikan saudaranya. ”Kami ingin memakmurkan masjid di saat Ramadan. Rindu melihat anak-anak salat Tarawih bersama,” tuturnya. (asy)

Related Articles

Back to top button