Purwakarta
Trending

Pasca Tragedi Maut Hajatan di Campaka, Pemkab Purwakarta Batasi Izin Hiburan Organ Tunggal

PURWAKARTA, RAKA – Tragedi maut di tengah pesta pernikahan mengguncang Kabupaten Purwakarta. Seorang pemilik hajatan tewas secara tragis usai diduga dikeroyok sekelompok preman dalam kondisi mabuk di Kecamatan Campaka, Sabtu (4/4). Peristiwa ini langsung memantik reaksi keras dari Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein.

Duka yang belum reda itu kini berubah menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Bupati yang akrab disapa Om Zein tersebut menegaskan bahwa kejadian ini tidak boleh terulang.

Ia bahkan secara tegas menyatakan akan memperketat izin keramaian, khususnya hajatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan besar.

“Hari ini saya keluarkan Surat Edaran untuk membatasi dan memperketat perizinan serta pengawasan izin keramaian di tempat hajatan,” tegasnya, Senin (6/4).

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah tak lagi memberi ruang longgar terhadap kegiatan tanpa pengawasan ketat.

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar respons administratif, melainkan bentuk tanggung jawab nyata pemerintah dalam melindungi warganya. Ia menilai, banyak kegiatan hajatan yang selama ini luput dari pengawasan maksimal, sehingga rawan disusupi pihak-pihak yang memicu keributan.

Secara tidak langsung, Om Zein juga menyentil kebiasaan masyarakat yang kerap mengabaikan koordinasi dengan aparat. Ia mengingatkan bahwa setiap kegiatan yang menghadirkan keramaian wajib mengikuti aturan dan berkoordinasi demi menjaga kondusivitas lingkungan.

“Kami ingin semua kegiatan masyarakat berjalan aman dan tertib, bukan justru berujung konflik,” ujarnya.
Sementara itu, fakta di balik tragedi ini terungkap memilukan. Korban, Dadang (57), warga Desa Kertamukti, harus kehilangan nyawa di momen yang seharusnya menjadi hari bahagia keluarganya. Ia tengah menggelar pesta pernikahan anaknya ketika insiden berdarah itu terjadi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar pukul 14.50 WIB, suasana hiburan organ tunggal mendadak berubah tegang saat sekelompok pemuda diduga mabuk datang. Mereka meminta uang kepada pihak penyelenggara hiburan dengan dalih membeli minuman tambahan.

Permintaan tersebut sempat ditanggapi dengan pemberian uang Rp100 ribu. Namun, jumlah itu dianggap tidak cukup oleh kelompok tersebut. Penolakan itulah yang diduga menjadi pemicu keributan hingga berujung aksi pengeroyokan brutal.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik, Bupati memastikan bahwa penanganan kasus ini sepenuhnya diserahkan kepada pihak kepolisian. Ia meminta masyarakat tidak terpancing emosi dan tetap mempercayakan proses hukum yang berjalan.

“Saya turut berduka cita. Percayakan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada kepolisian. Saya yakin akan ditangani sesuai hukum yang berlaku,” pungkasnya. (yat)

Related Articles

Back to top button