
PURWAKARTA, RAKA – Langkah agresif dilakukan Puskesmas Jatiluhur dalam memburu kasus Tuberkulosis (TB) di wilayahnya. Tak lagi menunggu pasien datang, tenaga kesehatan justru turun langsung ke desa-desa untuk melakukan skrining dan cek kesehatan gratis, seperti yang digelar di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, Senin (13/4).
Kepala Puskesmas Jatiluhur, Yayan Sopian, menegaskan bahwa pola layanan konvensional sudah tidak cukup untuk menekan penyebaran TB. Karena itu, strategi “jemput bola” menjadi andalan untuk memastikan tidak ada kasus yang luput dari deteksi.
“Ini bukan sekadar pelayanan biasa. Skrining TB adalah langkah penting untuk memutus rantai penularan. Kalau tidak dicari aktif, kasus bisa terus tersembunyi di masyarakat,” ujar Yayan, Senin (13/4).
Secara tidak langsung, ia menyiratkan bahwa masih ada potensi kasus TB yang belum terdeteksi di tengah masyarakat. Dengan skrining masif, pihaknya ingin memastikan setiap gejala dapat segera ditindaklanjuti sebelum berkembang lebih parah.
Yayan menjelaskan, deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus TB di wilayah Jatiluhur. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk sembuh sekaligus mencegah penularan ke orang lain.
“Kalau ditemukan lebih awal, penanganannya juga lebih cepat. Harapannya, angka TB di Jatiluhur bisa terus ditekan,” katanya.
Di sisi lain, pendekatan jemput bola juga menjadi jawaban atas persoalan klasik layanan kesehatan: akses dan biaya. Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi warga yang merasa terhambat berobat hanya karena faktor ekonomi.
“Warga tidak perlu khawatir soal biaya atau jauh dari fasilitas kesehatan. Kita yang datang ke mereka,” tegasnya.
Selain fokus pada penyakit menular, Puskesmas Jatiluhur juga tetap menjalankan program rutin untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melalui penyuluhan bulanan. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mampu mengelola penyakitnya secara mandiri.
Tak kalah penting, layanan kesehatan ibu hamil juga terus diperkuat. Pemeriksaan kehamilan hingga layanan USG disediakan guna memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik.
Upaya masif ini turut diperkuat dengan program cek kesehatan gratis yang digelar bergilir di seluruh desa. Dari total 10 desa wilayah kerja, seluruhnya diklaim sudah tersentuh layanan kesehatan.
Yayan memastikan, pihaknya akan terus mengintensifkan pendekatan langsung ke masyarakat sebagai strategi jangka panjang.
“Semua desa sudah kita jangkau. Tinggal bagaimana kita konsisten menjaga pelayanan ini agar masyarakat semakin sadar pentingnya kesehatan,” pungkasnya. (yat)



