Purwakarta
Trending

Video Tak Sopan Siswa SMAN 1 Purwakarta Viral, Pendidikan Karakter Jadi Sorotan

PURWAKARTA, RAKA – Jagat media sosial digegerkan oleh beredarnya video yang memperlihatkan perilaku tak pantas sejumlah pelajar berseragam SMAN 1 Purwakarta. Dalam rekaman tersebut, para siswa tampak melecehkan seorang guru perempuan dengan gestur tidak sopan, seperti mengacungkan jari tengah hingga menjulurkan lidah.

‎Aksi yang terjadi usai kegiatan belajar mengajar itu langsung memicu gelombang kritik dari berbagai pihak. Banyak yang menilai kejadian ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan cerminan rapuhnya penerapan pendidikan karakter di sekolah.

‎Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Ia menyebut insiden tersebut sebagai tamparan keras bagi dunia pendidikan di daerah.

‎“Perilaku seperti itu jelas bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sedang kita bangun melalui program karakter,” ujar Agus, Sabtu (18/4).

‎Agus menjelaskan bahwa program Gapura Panca Waluya sejatinya dirancang untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika. Program itu menekankan lima nilai utama, yakni sehat, baik, jujur, cerdas, serta cekatan.

‎Namun demikian, ia menilai realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Menurutnya, jika benar para pelaku berasal dari sekolah unggulan, maka kejadian ini menjadi ironi yang sulit diterima.

‎Ia juga menegaskan bahwa dalih ekspresi atau candaan di dalam kelas tidak bisa dijadikan pembenaran. Agus menilai ketika tindakan tersebut tersebar ke ruang publik, maka persoalannya berubah menjadi pelanggaran etika yang serius.

‎“Hal yang dianggap sepele bisa berdampak besar terhadap nama baik sekolah dan kepercayaan masyarakat,” katanya menambahkan.

‎Di sisi lain, pihak sekolah mengklaim telah mengambil langkah tegas. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Purwakarta, Ida Rosida, menyampaikan bahwa sembilan siswa yang terlibat sudah dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.

‎Ia menjelaskan bahwa penanganan kasus tersebut mengacu pada pedoman pendidikan karakter Pancawaluya serta tata tertib internal sekolah. Awalnya, para siswa sempat dijatuhi hukuman skorsing selama 19 hari.

‎Meski begitu, pendekatan berbeda datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia mengaku prihatin dan menilai hukuman semata tidak cukup untuk memperbaiki perilaku siswa.

‎“Saya menyarankan agar sanksinya tidak hanya skorsing, tetapi juga kegiatan yang membentuk karakter,” ujar Dedi.

‎Menurutnya, pembinaan bisa dilakukan melalui aktivitas sederhana namun berdampak, seperti membersihkan lingkungan sekolah, menyapu setiap hari, hingga merawat fasilitas umum seperti toilet.

‎Ia menambahkan bahwa durasi pembinaan dapat berlangsung antara satu hingga tiga bulan, tergantung pada perubahan sikap siswa.

‎Lebih jauh, Dedi menekankan bahwa tujuan utama dari hukuman adalah memberikan efek jera sekaligus membangun kesadaran.

‎“Prinsipnya, setiap hukuman harus mendidik. Mereka tetap anak-anak yang membutuhkan bimbingan,” ucapnya.

‎Kasus ini pun menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, khususnya di Purwakarta. Banyak pihak kini mendorong evaluasi menyeluruh, tidak hanya pada siswa, tetapi juga pola komunikasi antara guru dan murid. (yat)

Related Articles

Back to top button