Purwakarta
Trending

Bursa Calon Ketua DPD Golkar Purwakarta Memanas, Nama Yogie Mochamad Mulai Mencuat

PURWAKARTA, RAKA – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Purwakarta, dinamika internal partai kian memanas. Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat ketua, memicu spekulasi dan tarik ulur kepentingan di tubuh partai berlambang beringin tersebut.

‎Ketua Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Kabupaten Purwakarta, Yogie Mochamad, belum mau membuka kartu. Ia menyatakan, organisasinya memilih menahan diri di tengah meningkatnya suhu politik internal. Sikap ini dinilai sebagai langkah taktis di tengah persaingan yang semakin terbuka.

‎“Kami masih mencermati dinamika yang berkembang. Yang terpenting saat ini adalah menjaga soliditas kader agar tidak terpecah oleh kepentingan jangka pendek,” ujar Yogie, Jumat (17/4).

‎Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat pengurus DPK Kosgoro 1957 di sekretariat Jalan R.E. Martadinata. Dalam forum itu, Yogie secara tidak langsung mengakui bahwa peluang dirinya untuk maju dalam bursa Ketua DPD Golkar Purwakarta masih terbuka, namun belum menjadi keputusan final.

‎Ia menegaskan, sikap wait and see bukan tanpa alasan. Menurutnya, membaca peta kekuatan secara cermat menjadi kunci agar tidak salah langkah dalam kontestasi yang sarat kepentingan.

‎Yogie juga mengingatkan bahwa tantangan Partai Golkar ke depan tidak bisa dianggap enteng. Dengan modal sembilan kursi legislatif, partai dituntut bekerja lebih keras untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan perolehan suara pada pemilu mendatang.

‎Menurutnya, tanpa strategi yang matang dan kekompakan organisasi, capaian tersebut bisa terancam. Ia menilai, konsolidasi internal harus menjadi prioritas utama sebelum berbicara lebih jauh soal perebutan kursi ketua.

‎“Kepengurusan ke depan harus diisi oleh figur yang punya kapasitas dan integritas, bukan sekadar kedekatan. Kalau salah memilih, dampaknya bisa panjang bagi elektabilitas partai,” tegasnya.

‎Di sisi lain, Yogie menyoroti perlunya pembaruan dalam tubuh organisasi. Ia menilai, Golkar harus berani beradaptasi dengan memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda agar mesin partai kembali hidup hingga ke tingkat akar rumput.

‎Ia menjelaskan bahwa struktur partai di tingkat kecamatan dan desa harus diaktifkan kembali agar tidak sekadar menjadi formalitas. Menurutnya, kekuatan riil partai justru terletak pada kerja-kerja lapangan yang konsisten.

‎Dalam rapat tersebut, isu suksesi kepemimpinan memang mencuat, namun bukan menjadi satu-satunya fokus pembahasan. Yogie menyebut, forum itu mengusung tema besar “Menjaga Marwah dan Nilai-nilai Partai Golkar” sebagai upaya meredam potensi gesekan internal.

‎“Rapat ini bukan hanya soal siapa jadi ketua, tapi bagaimana menjaga marwah partai dan memastikan arah kebijakan tetap sejalan dengan kepentingan masyarakat,” katanya.

‎Ia juga menegaskan bahwa Kosgoro 1957 sebagai salah satu Kelompok Induk Organisasi (KINO) memiliki peran strategis dalam menentukan arah politik Golkar di Purwakarta.

‎Menurut Yogie, forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kaderisasi, menyusun program kerja, serta menyelaraskan langkah organisasi menjelang agenda politik yang lebih besar, termasuk Rapat Kerja Daerah (Rakerda).

‎Dengan dinamika yang terus bergerak, sikap menunggu yang diambil Kosgoro justru dinilai sebagai manuver politik tersendiri. Di tengah persaingan yang kian terbuka, langkah ini bisa menjadi penentu arah dukungan sekaligus peta kekuatan jelang Musda.

‎Kosgoro 1957, kata Yogie, tetap berkomitmen mengawal eksistensi Partai Golkar agar tidak kehilangan posisi sebagai kekuatan politik utama di Kabupaten Purwakarta. (yat)

Related Articles

Back to top button