Tewas di Kediaman Pribadi, Kematian Pejabat Pemkab Purwakarta Masih Diselimuti Misteri
PURWAKARTA, RAKA – Kematian Yogi Saleh (40), pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta yang ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya, masih menyisakan misteri. Hingga kini, Satreskrim Polres Purwakarta belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban dan masih menunggu hasil autopsi dari tim kedokteran forensik.
Korban diketahui menjabat sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta. Ia ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Jalan Patinggi III, Kampung Karangsari, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Minggu (14/6) malam.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, mengatakan korban pertama kali ditemukan oleh istrinya yang baru pulang bersama anak dan mertuanya usai menghadiri acara wisuda.
Berdasarkan keterangan saksi, sekitar pukul 16.00 WIB istri korban meninggalkan rumah untuk menghadiri acara wisuda di salah satu hotel di Purwakarta. Mereka kemudian kembali sekitar pukul 19.30 WIB.
Namun saat tiba di rumah, kondisi rumah dalam keadaan terkunci dan seluruh lampu padam.
“Istri korban sempat menggedor pintu depan dan memeriksa bagian belakang rumah, namun seluruh akses masih terkunci dari dalam,” kata Made, Senin (15/6).
Karena tidak mendapat respons dari korban, istri korban kemudian masuk melalui jendela yang dicongkel. Saat menuju kamar, ia menemukan ceceran darah di depan pintu.
“Ketika pintu kamar dibuka, korban ditemukan sudah dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah di dalam kamar,” ujarnya.
Tim Inafis Satreskrim Polres Purwakarta yang tiba di lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan kematian korban.
Barang bukti yang diamankan antara lain sebuah tangga, dua potong kabel yang telah terputus, satu ikat pinggang, telepon genggam, dompet, uang tunai, serta sebilah pisau dapur berwarna kuning.
Menurut Made, tangga, kabel, dan ikat pinggang ditemukan di sekitar kamar korban dan diduga sempat digunakan dalam upaya gantung diri. Namun dugaan tersebut masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
“Ini masih dugaan sementara berdasarkan temuan di lapangan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tindak pidana,” katanya.
Polisi juga memastikan tidak ada barang berharga yang hilang dari lokasi kejadian.
“Hingga saat ini kami belum menemukan indikasi perampokan maupun tanda-tanda perkelahian di dalam rumah,” ujar Made.
Hasil visum luar menunjukkan adanya sejumlah luka serius pada tubuh korban. Made mengungkapkan korban mengalami tiga luka tusukan di bagian leher, satu luka robek pada bagian dada atau ulu hati, bekas jeratan di leher, serta memar pada beberapa bagian tubuh.
“Hasil visum luar menunjukkan ada tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di bagian ulu hati, bekas jeratan di leher, serta beberapa memar pada tubuh korban,” ungkapnya.
Selain itu, penyidik juga tengah mendalami isi telepon genggam korban, termasuk percakapan terakhir sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Sementara itu, istri korban yang menjadi saksi utama belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut karena masih mengalami syok.
“Hari ini kami sudah melakukan autopsi. Hasilnya masih menunggu dari tim kedokteran forensik. Nanti hasil autopsi akan kami sinkronkan dengan hasil penyelidikan dan keterangan saksi untuk menentukan penyebab pasti kematian korban,” kata Made.
Keluarga Temukan Kejanggalan, Minta Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung, keluarga korban meminta kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang perlu dijelaskan melalui hasil autopsi dan penyelidikan mendalam.
Perwakilan keluarga korban, Eka Yusuf, mengaku melihat banyak luka pada tubuh korban yang membuat keluarga mempertanyakan dugaan awal yang berkembang.
“Saya melihat ada kejanggalan. Banyak luka di tubuh kakak saya, di leher dan bagian lainnya. Kalau takdir saya terima, tapi kalau memang ada tindakan pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasus ini seterang-terangnya,” kata Eka.
Menurutnya, keluarga hingga kini masih menunggu hasil resmi autopsi yang dilakukan tim forensik.
“Kami belum menerima hasil resminya. Kalau memang ada luka-luka seperti yang disampaikan, tentu harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada yang ditutupi,” ujarnya.
Eka juga mengaku sulit mempercayai anggapan bahwa korban mengakhiri hidupnya sendiri. Menurutnya, Yogi dikenal sebagai pribadi yang religius dan aktif beribadah.
“Kalau ada yang mengatakan bunuh diri karena depresi, saya pribadi sulit percaya. Kakak saya orang yang religius, rajin beribadah,” ucapnya.
Selain itu, keluarga mengungkapkan korban sempat mengeluhkan persoalan pekerjaan kepada istrinya, meski mereka tidak mengetahui secara rinci persoalan yang dimaksud.
“Saya hanya mendengar ada keluhan terkait pekerjaan. Detailnya saya tidak tahu, mungkin istrinya yang lebih mengetahui,” katanya.
Keluarga berharap penyebab kematian korban dapat segera terungkap dan tidak menyisakan spekulasi di tengah masyarakat.
“Kami minta kasus ini diusut tuntas. Kalau memang ada pelaku, harus ditangkap. Jangan sampai kasus ini berhenti tanpa kejelasan,” tegas Eka. (yat)



