PURWAKARTA, RAKA – Hamparan eceng gondok yang menutupi kawasan wisata Parang Gombong di Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, dikeluhkan wisatawan dan warga setempat. Tumbuhan air tersebut memenuhi area pesisir Waduk Jatiluhur hingga mengganggu aktivitas wisata dan perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.
Pantauan di lokasi menunjukkan eceng gondok menutupi sebagian besar bibir waduk dan area yang biasa digunakan pengunjung untuk menikmati panorama Waduk Jatiluhur maupun menaiki perahu wisata. Kondisi tersebut membuat kawasan wisata yang selama ini menjadi salah satu destinasi favorit di Purwakarta terlihat kurang nyaman untuk dikunjungi.
Salah seorang wisatawan asal Karawang, Jaelani, mengaku kecewa setelah menempuh perjalanan jauh untuk berlibur ke Parang Gombong. Menurutnya, kondisi objek wisata tidak sesuai dengan harapan karena dipenuhi eceng gondok.
“Saya jauh-jauh datang dari Karawang, sudah bayar tiket masuk, tapi kondisinya seperti ini. Eceng gondok menumpuk di mana-mana, jadi kurang nyaman untuk menikmati wisata,” ujarnya, Rabu (24/6).
Keluhan serupa disampaikan Iyan, warga yang sehari-hari menyewakan perahu wisata di kawasan Parang Gombong. Ia mengatakan keberadaan eceng gondok membuat jalur perahu tertutup sehingga aktivitas penyewaan menjadi terganggu.
“Ini gimana, Parang Gombong yang viral penuh sama eceng. Gimana orang mau naik perahu kalau semuanya ketutupan eceng?” kata Iyan.
Menurutnya, tumpukan eceng gondok yang terus berdatangan ke area wisata membuat perahu kesulitan bergerak. Akibatnya, banyak wisatawan mengurungkan niat untuk berkeliling waduk menggunakan perahu.
“Kalau jalurnya tertutup seperti ini, wisatawan juga jadi malas naik perahu. Dampaknya langsung terasa ke penghasilan kami,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kutamanah, Asep Samsudin, mengakui keberadaan eceng gondok yang terus menumpuk telah mengganggu aktivitas wisata di Parang Gombong. Ia menyebut masyarakat bersama pemerintah desa berupaya membersihkan eceng gondok setiap hari secara swadaya.
“Setiap hari warga bergotong royong membersihkan eceng gondok menggunakan alat seadanya. Biasanya paling banyak menumpuk pada pagi hari. Sore hari sebagian memang terbawa kembali ke tengah waduk, tetapi tetap saja masih banyak yang berada di kawasan wisata,” ujar Asep saat dihubungi melalui telepon.
Asep menjelaskan, upaya pembersihan yang dilakukan warga belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh karena volume eceng gondok yang terus berdatangan cukup besar. Karena itu, pihaknya berharap ada langkah penanganan yang lebih serius dari instansi terkait.
“Kami berharap ada penanganan yang lebih maksimal agar eceng gondok ini tidak terus mengganggu aktivitas wisata dan mata pencaharian warga di sekitar Parang Gombong,” katanya.
Keberadaan eceng gondok yang semakin banyak di kawasan Parang Gombong tidak hanya mengurangi kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor wisata Waduk Jatiluhur. Dengan musim kemarau yang mulai berlangsung, warga berharap penanganan dapat segera dilakukan agar kawasan wisata tersebut kembali bersih dan menarik untuk dikunjungi. (yat)



