
PURWAKARTA, RAKA – Di tengah menurunnya minat baca dan semakin akrabnya anak-anak dengan gawai, sebuah gerakan literasi di Kabupaten Purwakarta memilih cara berbeda untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Alih-alih menunggu warga datang ke perpustakaan, mereka justru membawa perpustakaan langsung ke tengah-tengah masyarakat.
Gerakan itu bernama TEPAR (Teras Ngampar Literasi), sebuah program yang digagas Perpustakaan Teras Baca Generasi Bahagia di Desa Kiarapedes, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.
Program tersebut lahir pada 2023 sebagai respons terhadap masih terbatasnya akses masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, terhadap fasilitas perpustakaan.
Penggagas Teras Baca Generasi Bahagia, Ade Setia Lesmana, mengatakan TEPAR hadir dengan konsep jemput bola. Buku-buku dibawa langsung ke desa-desa agar anak-anak tetap memiliki kesempatan membaca dan belajar tanpa harus datang ke perpustakaan.
“Kami melihat banyak masyarakat enggan datang ke perpustakaan karena aksesnya jauh. Akhirnya kami yang mendekatkan literasi kepada masyarakat, istilahnya jemput bola,” kata Ade, Jum’at (24/7/2026$.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan TEPAR digelar satu hingga dua kali setiap bulan dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat maupun permintaan dari desa yang ingin dikunjungi.
Setiap kegiatan tidak hanya menghadirkan ratusan koleksi buku bacaan, tetapi juga berbagai aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi dan kepercayaan diri anak-anak.
Setelah membaca buku, para peserta diminta menyampaikan kembali isi bacaan melalui sesi ulasan atau review buku. Cara ini dinilai efektif melatih kemampuan memahami bacaan sekaligus membiasakan anak berbicara di depan umum.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak usia taman kanak-kanak hingga pelajar SMA.
Khusus bagi peserta tingkat SMA, pembinaan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Ade bersama para relawan mengajak para remaja menjadi penggerak literasi di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Setelah kegiatan selesai kami kumpulkan para remajanya. Kami ajak berkomitmen, apakah mereka mau membangun perpustakaan di desanya. Kalau mau, kami bantu buku dan pendampingannya supaya program ini terus berjalan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuahkan hasil. Hingga kini, Teras Baca Generasi Bahagia telah mendampingi pembentukan empat perpustakaan desa di sejumlah wilayah di Kabupaten Purwakarta.
Menurut Ade, tujuan gerakan ini bukan sekadar meningkatkan minat baca. Literasi juga diharapkan menjadi jalan untuk membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka putus sekolah yang masih ditemukan di sejumlah desa.
“Masih ada anak yang putus sekolah, bahkan sejak SD maupun SMP. Itu yang membuat saya ingin terus membawa literasi ke pelosok-pelosok desa agar tumbuh kesadaran pentingnya pendidikan,” katanya.
Selain itu, TEPAR juga menjadi ruang untuk menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak. Ade menilai kasus perundungan atau bullying mulai banyak ditemukan hingga ke wilayah pedesaan sehingga perlu dicegah melalui kegiatan positif yang melibatkan anak-anak.
Program TEPAR merupakan pengembangan dari Perpustakaan Teras Baca Generasi Bahagia yang didirikan Ade Setia Lesmana sejak 2020 di teras rumahnya di Kampung Malang Nengah, Desa Kiarapedes. Berawal dari koleksi buku hasil donasi, kini perpustakaan tersebut memiliki sekitar 4.000 buku dan menjadi pusat berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Selain membaca, Teras Baca juga menyelenggarakan kelas menulis, bahasa Inggris, bahasa Sunda, pelatihan komputer, diskusi buku, public speaking, pemutaran film edukasi, hingga pengembangan keterampilan desain grafis, fotografi, videografi, serta pembinaan kelompok seni dan pertanian.
Berbagai inovasi tersebut mengantarkan Teras Baca Generasi Bahagia meraih sejumlah penghargaan, di antaranya Perpustakaan Terbaik Tingkat Jawa Barat pada 2022 serta Juara I Nasional Lomba Video Vlog Literasi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional pada 2023.
Meski demikian, Ade berharap gerakan literasi tidak hanya berkembang di wilayah perkotaan. Menurutnya, desa-desa masih memiliki potensi besar yang perlu didukung agar semakin banyak anak memperoleh akses terhadap pendidikan dan budaya membaca.
“Jangan hanya fokus di kota. Di desa potensinya luar biasa dan masih banyak yang membutuhkan pendampingan. Kami berharap pemerintah ikut mendukung gerakan-gerakan kecil seperti ini karena dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat,” pungkasnya. (yat)



