Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
HEADLINE
Trending

Fakta Sejarah Karawang: Lebih Tua dari Narasi Mataram

KARAWANG, RAKA – Setiap memasuki bulan Agustus dan September, masyarakat Karawang selalu disibukkan dengan dua momentum besar, yakni peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kabupaten Karawang.

Namun, di balik berbagai perayaan tersebut, terdapat satu persoalan sejarah yang dinilai perlu diluruskan, yakni narasi yang selama ini menempatkan Karawang seolah baru memiliki peradaban setelah masuknya pengaruh Kerajaan Mataram Islam.

Pemerhati sejarah dan budaya, Ono Sutajaya, menilai sejarah Karawang selama ini terlalu banyak dilihat dari sudut pandang Mataramsentris. Padahal, menurutnya, Karawang telah menjadi pusat peradaban dan kawasan maritim penting jauh sebelum Kerajaan Mataram Islam berdiri.

“Selama ini kita terlanjur terdoktrin dengan narasi bahwa Karawang baru hidup dan memiliki peradaban sejak 1633, ketika Sultan Agung dari Jawa Tengah mengirim pasukan dan melantik Raden Adipati Singaperbangsa sebagai bupati pertama,”katanya, Senin (10/8).

Menurutnya, pandangan tersebut membuat Karawang seolah-olah hanya merupakan kawasan hutan dan rawa belantara yang kemudian dibuka menjadi lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan logistik pasukan Mataram. Ono, menilai narasi tersebut tidak menggambarkan sejarah Karawang secara utuh.

Sebab, berbagai jejak sejarah menunjukkan bahwa wilayah Karawang telah berkembang sebagai kawasan perdagangan, pertanian, pemerintahan dan maritim jauh sebelum kedatangan Mataram.

Menurut Ono, salah satu pandangan yang perlu dikaji kembali adalah asal-usul nama Karawang. Ia mengutip pandangan mendiang budayawan Ridwan Saidi yang menyebut nama Karawang bukan berasal dari istilah ka-rawa-an atau daerah berawa, melainkan berkaitan dengan istilah “Caravan” yang merujuk pada kafilah perdagangan lintas wilayah.

Ridwan Saidi, lanjut Ono, juga menyebut pusat bandar perdagangan internasional yang dikenal dengan nama Jayakarta berada di wilayah maritim Karawang. Ono kemudian merujuk catatan perjalanan Portugis Tomé Pires dalam Suma Oriental. Menurutnya, catatan tersebut menjadi salah satu sumber yang menunjukkan keberadaan pelabuhan penting di kawasan Karawang sebagai bagian dari jaringan ekonomi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Aktivitas perdagangan tersebut, kata dia, ditopang oleh keberadaan Sungai Citarum Purba yang berfungsi sebagai jalur transportasi air dari wilayah pedalaman menuju pesisir Laut Jawa.

“Komoditas hasil bumi dari wilayah hulu dikirim melalui Sungai Citarum menuju wilayah hilir. Dermaga Talibaju di kawasan Cikaobandung, Jatiluhur, kemudian terhubung dengan kawasan Tanjungpura di Karawang yang menjadi salah satu wilayah penting dalam aktivitas perdagangan,”terangnya.

Jejak kejayaan maritim tersebut, menurut Ono, masih dapat ditelusuri melalui sejumlah nama wilayah atau toponimi yang ada hingga saat ini. Ia mencontohkan Tanjungpura dan sejumlah wilayah yang menggunakan istilah “Pangkalan”, yang menurutnya berkaitan dengan aktivitas pelayaran dan tempat perahu berlabuh pada masa lalu.

Jika ditarik lebih jauh, Ono menyebut akar peradaban Karawang bahkan telah ada sejak masa prasejarah melalui Kebudayaan Buni. Salah satu lokasi yang dikaitkannya dengan jejak tersebut adalah Situs Kebon Cau di Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta.

Peradaban di kawasan tersebut kemudian berkembang pada masa Kerajaan Tarumanagara. Jejaknya dapat dilihat dari peninggalan arkeologis seperti Kompleks Percandian Batujaya dan Cibuaya. Ia menilai keberadaan Candi Jiwa di kawasan Batujaya menjadi salah satu bukti penting bahwa Karawang memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang. Struktur candi berbahan bata tersebut bahkan diketahui memiliki usia yang sangat tua, sehingga menjadi bagian penting dalam kajian sejarah Jawa Barat.

Selain peninggalan arkeologis, Ono juga menyebut Prasasti Kabantenan yang dikeluarkan pada masa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, serta Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, sebagai sumber yang menurutnya perlu dikaji dalam melihat posisi Karawang dalam sejarah Tatar Sunda.

Sebagai bagian dari wilayah Sunda Pajajaran, Karawang juga disebut memiliki sistem pertahanan. Di bagian selatan terdapat kawasan perbukitan Kuta Tandingan yang menurut Ono berfungsi sebagai salah satu titik pertahanan kerajaan.

Sementara di sepanjang Sungai Citarum, ia merujuk kisah dalam Babad Indramayu mengenai sosok Kidang Pananjung atau Kibagus Sidum yang disebut mempertahankan wilayah Sunda dari desakan pasukan Raden Arya Wiralodra dari arah timur pada 1527.

Menurut Ono, rangkaian sejarah tersebut menunjukkan bahwa Karawang bukan sekadar wilayah yang dilintasi atau menjadi bagian dari kepentingan kerajaan lain. Karawang memiliki perjalanan peradaban sendiri yang panjang, termasuk sebagai kawasan perdagangan dan pertahanan.

Jejak sejarah tersebut, lanjut dia, kemudian berlanjut hingga masa perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, ketika para pemuda membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok.

Ono juga menyebut perjalanan Tan Malaka yang disebut sempat transit di Cikampek pada September 1945 sebagai bagian dari dinamika politik awal Republik Indonesia di wilayah Karawang.

“Keberanian para pemuda mengamankan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok bukanlah sebuah kebetulan geografis. Begitu juga dengan dinamika politik setelah kemerdekaan. Karawang sejak dahulu memiliki posisi strategis,” ujarnya.

Karena itu, momentum Hari Jadi Kabupaten Karawang dan HUT Kemerdekaan RI dinilai menjadi waktu yang tepat untuk kembali melihat sejarah Karawang secara lebih utuh.

Ono berharap generasi muda tidak hanya mengenal Karawang dari narasi sebagai daerah lumbung padi atau wilayah yang pernah menjadi bagian dari kepentingan Mataram, tetapi juga memahami bahwa daerah ini memiliki akar peradaban yang panjang.

“Meluruskan sejarah penting agar generasi muda tidak lagi minder dengan identitasnya, melainkan bangga berdiri di atas tanah Karawang yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Nusantara,”tutupnya. (zal)

Related Articles

Back to top button